Kornas Jaringan Pengusaha Muda Muhamadiyah (JPMU) Horo Wahyudi mengatakan era industri 4.0 ini mesti dikuasai baik pemerintah maupun pengusaha dalam menghadapi perkembangan perekonomian global. Perusahaan besar, kata dia, bisa segera gulung tikar saat tak ikut serta berinovasi.
"Industri 4.0 ini sangat penting sekali karena ini era perubahan, kalau tidak ikut akan jauh ketinggalan. Banyak perusahaan besar yang terlibas apalagi kita pengusaha yang baru memulai dan belajar," kata Horo ditemui di kawasan Cikini, Jakarta, Kamis, 11 April 2019.
Horo sepakat program yang menyentuh era industri 4.0 mesti muncul dalam debat Capres seri terakhir pada 13 April 2018. Tema debat yang membahas isu perdagangan dan industri pun akan dilihat bagaimana keberpihakan dilakukan.
"Industri 4.0 ini kalau tidak dibahas calon Capres nanti pemerintah akan gagap menghadapi perubahan industri. Negara lain sudah maju dan kita akan selalu ketinggalan jika ingin menjadi leader di seluruh dunia," ungkapnya.
Menurut Horo, calon petahana telah menyiapkan fasilitas infrastruktur untuk bisa menghadapi industri 4.0. Fokus terhadap pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi juga menjadi nilai positif yang diapresiasi pengusaha.
"Pemerintah sudah oke, sudah banyak memacu industri kreatif kemudian banyak di sekolah kurikulum sudah diterapkan menghadapi industri 4.0 ini, banyak jurusan yang akomodasi kembutuhan pasar kita," ungkapnya.
Infrastruktur di sektor jaringan koneksi internet juga mulai dirasakan hasilnya di berbagai daerah. Menurut Hori, fokus pemerintah terhadap ekonomi kerakyatan telah dilakukan secara merata.
"Pemerintah memberikan internet gratis kepada darah terisolir sehingga tidak ada sekat daerah dan pusat. Tapi memang masih ada beberapa daerah yang belum terkoneksi dan itu tugas pemerintah ke depan memenuhi semua dan dirasakan masyarakat," tuturnya.
Kehadiran roadmap industri 4.0 juga dinilai berpotensi menumbuhkan ekonomi digital paling tinggi dalam waktu tak lama. Dengan jumlah 260 juta penduduk, Indonesia sudah menguasai populasi terbesar di ASEAN.
"Infrastruktur teknologi sudah bagus, kecepatan teknologi bisa kita terima, koneksi bisa diperoleh di seluruh Indonesia karena kita ingin ada pemerataan di masing-masing darah itu sama," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News