Kakao. Foto : Unspleash.
Kakao. Foto : Unspleash.

Petani Kakao Didorong Memanfaatkan Proses Modern

Ekonomi kakao
Ilham wibowo • 11 Februari 2020 19:04
Jakarta: Kementerian Perindustrian semakin aktif mendorong pengembangan teknologi hilirisasi untuk lebih meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri. Contohnya seperti dilakukan oleh Balai Besar Industri Hasil Perkebunan (BBIHP) di Makassar dengan membuat Showcase Kakao 4.0.
 
“Teknologi pengolahan kakao ini kami rancang sesuai kebutuhan petani. Kami berharap, ke depannya, para petani itu bisa kami dorong menjadi petani produsen. Dengan konsep end-to-end process, dari mulai pascapanen sampai benar-benar menghasilkan produk cokelat,” kata Kepala BBIHP Tirta Wisnu Permana melalui keterangan tertulisnya, Selasa, 11 Februari 2020.
 
Wisnu optimistis, melalui upaya strategis tersebut, akan menumbuhkan jumlah wirausaha baru di Tanah Air terutama sektor industri kecil dan menengah (IKM).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kami harus mendorong petani kita agar bisa meningkatkan nilai tambah komoditasnya. Oleh karena itu, kami bikin teknologi fermentasi,” tuturnya.
 
Teknologi fermentasi konvensional biasanya memakan waktu lima sampai tujuh hari. Tetapi inovasi yang dikembangkan oleh BBIHP bisa memangkas waktu fermentasi biji kakao hanya menjadi satu hari yang membuat proses lebih efisien dan IKM nasional bisa semakin berdaya saing.
 
“Insyaallah tahun ini akan kami patenkan teknologi smart fermentor ini. Kami juga sedang coba membuat dark chocolate yang punya nutrisi tinggi dan bermanfaat bagi kesehatan,” imbuhnya.
 
Wisnu menambahkan pihaknya aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, seperti siswa sekolah, mengenai konsumsi cokelat yang baik.
 
Tidak hanya menyasar kepada peningkatan nilai tambah kakao, BBIHP juga sedang merancang teknologi yang diberi nama Mini Point 4.0 untuk pengolahan kopi dengan kapasitas 15-20 kg.
 
“Kami lagi membuat anggaran aplikasinya, alat-alatnya, dan mesin roasting-nya,” tuturnya.
 
Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto potensi kakao Sulawesi perlu digarap secara maksimal dengan penerapan teknologi modern. Melalui peningkatan nilai tambah ini, diyakini dapat memacu perekonomian wilayah setempat hingga nasional.
 
“Kalau kita bergantung pada komoditas yang masih belum diolah itu kan nilai tambahnya sedikit. Per kilo biji kakao itu di sini sekitar Rp20 ribu. Tetapi kalau kita proses lagi, dengan smart factory ini bisa 10 kali lipat nilai tambahnya, sekitar Rp200 ribu atau Rp250 ribu per kilogram,” ungkap Eko.
 
Kemenperin memiliki Balai Diklat Industri (BDI) Makassar yang punya tugas untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) industri pengolahan ikan dan rumput laut serta desain kemasan produk pangan. Hal ini guna menjawab kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif