Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Foto : MI/Ramdani.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Foto : MI/Ramdani.

Integrasikan 64 RS BUMN, Erick Thohir Ingin Saingi Swasta

Ekonomi bumn Erick Thohir
Suci Sedya Utami • 10 Februari 2020 18:45
Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir akan mensinergikan pengelolaan 64 rumah sakit yang selama ini dimiliki atau merupakan anak usaha dari perusahaan pelat merah.
 
Erick menjelaskan nantinya pengelolaan puluhan rumah sakit tersebut tidak lagi melalui induk BUMN melainkan melalui perusahaan atau rumah sakit yang menjadi leading. Sinergi tersebut ke depannya akan menjadi holding yang nantinya akan dikelola oleh Pertamina Bina Medika atau Pertamedika Indonesia Healthcare Corporation (IHC).
 
Ia bilang penggabungan rumah sakit BUMN akan menciptakan market leader rumah sakit di Indonesia. Ia bilang share market dari rumah sakit-rumah sakit BUMN sebesar 25 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Market share luar biasa, enggak perlu juga 51 persen. Kalau enggak ada persaingan kan enggak seru," kata Erick dalam acara '1st Indonesia Healthcare Corporation Medical Forum' di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, Senin, 10 Februari 2020.
 
Maka dari itu, dirinya mengatakan harapannya dengan integrasi tersebut akan bisa menciptakan rumah sakit dengan kapasitas yang besar serta standar yang tinggi sehingga bisa menyaingi swasta. Ia menyadari banyak orang Indonesia yang lebih memilih berobat ke luar negeri dibandingkan di dalam negeri.
 
"Jangan sampai ke depan banyak Indonesia yang berobat ke luar negeri. Tapi enggak bisa juga paksa berobat di dalam kalau kita enggak punya standar yang tinggi. Itulah kenapa dikonsolidasikan. Dan harus bisa menyaingi swasta secara bisnis," tutur dia.
 
Berdasarkan data Kementerian BUMN, 64 RS BUMN ini memiliki total pendapatan Rp5,6 triliun dengan ebitda sebesar Rp510 miliar. Erick berharap dengan integrasi akan mampu meningkatkan (laverage) pendapatan menjadi Rp8 triliun hingga Rp10 triliun di masa mendatang.
 
Meskipun diakui dirinya yang menjadi fokus tentunya bukan hanya untuk mencari keuntungan, namun tujuan utamanya yakni bagaimana agar RS-RS yang tadinya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan BUMN yang inti bisnisnya bukan di bidang kesehatan, menjadi fokus ke kesehatan karena akan dikelola oleh para ahli di bidangnya. Lebih jauh Erick menambahkan hal ini tentunya sesuai dengan upaya pemerintah yang ingin menciptakan health security.
 
"Konsolidasi saya rasa mungkin insyallah Juni sudah bisa berjalan. Di akhir tahun ini mungkin sudah bisa konsolidasi yang lebih besar lagi, karena kan ada tahap satu, dua, tiga. Tahap satunya yakni dengan menggabungkan rumah sakit milik Pertamina dan Pelni. Lulu dilanjutkan dengan PTPN, Pelindo dan lainnya," jelas Erick.
 
Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama PT Pertamina Bina Medika (Pertamedika) IHC Fathema Djan Rachmat menjelaskan mengenai roadmap pengembangan IHC group agar bisa mencapai posisi market leader di 2022. Pertama, tahap pertama atau foundation yakni dengan develop market position yang dilakukan di 2019-2020.
 
Fase kedua atau expansion dengan melakukan grow market share di 2020-2021. Fase ketiga atau full leadership plus regional expansion dengan melakukan secure leadership position di 2022.
 
"Pada Juni kami komitmen untuk selesaikan integrasi 35 RS dengan jumlah tempat tidur 4800 ribu. Di fase ke tiga akan jadi 64 RS dengan jumlah tempat tidur 6500," tutur Fathema.
 
Ia menyebutkan jumlah dokter umum untuk sinergi 64 RS sebanyak 940 dokter, lalu ada juga 1.473 dokter spesialis, 159 dokter sub-spesialis, 126 ruang operasi, dengan penanganan 298 operasi jantung, memiliki 572 mesin hemodialisa dan dua mesin radioterapk, lima mesin MRI dan 20 mesin CT scan.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif