NEWSTICKER
Komisaris Independen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Yenny Wahid - - Foto: Medcom/ Nur Azizah
Komisaris Independen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Yenny Wahid - - Foto: Medcom/ Nur Azizah

Komisaris Minta Garuda Tak Menerbitkan Utang Baru

Ekonomi bumn Garuda Indonesia surat utang
Husen Miftahudin • 27 Februari 2020 21:23
Jakarta: Komisaris Independen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Yenny Wahid meminta jajaran direksi menyelesaikan utang jatuh tempo perusahaan. Namun penyelesaiannya tidak dilakukan dengan cara menerbitkan utang baru.
 
"Cashflow pasti akan terhambat kalau semua untuk bayar utang. Jadi harus ada sumber pendanaan baru untuk membayar utang tanpa harus menerbitkan utang baru," ujar Yenny di gedung Garuda Indonesia, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis, 27 Februari 2020.
 
Menurut dia, restrukturisasi utang harus dilakukan untuk memastikan perusahaan tidak mengalami gagal bayar. "Tidak boleh ada penerbitan utang baru karena hubungannya dengan covenant tapi restrukturisasi, refinancing, dan sebagainya. Silakan saja," urai dia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengakui pihaknya tengah menghadapi beberapa pinjaman yang akan jatuh tempo. Namun ia memastikan jajaran direksi akan bekerja keras untuk menyelesaikan persoalan utang jatuh tempo tersebut.
 
"Soal keuangan, betul kita menghadapi situasi keuangan di mana ada beberapa pinjaman yang akan jatuh tempo. Tetapi kita bekerja keras untuk memastikan bahwa itu tidak akan memengaruhi operasional ke depan," tegas Irfan.
 
Irfan juga akan berkoordinasi dengan banyak pihak. Dia optimistis utang perusahaan akan terselesaikan karena Garuda punya sumber daya manusia yang memiliki kredibilitas.
 
"Saya punya keyakinan Pak Fuad, Direktur Keuangan kami punya kemampuan yang sangat menakjubkan dalam mengelola itu. Yang penting, anda lihat masih terbang enggak? Kalau terbang berarti persoalan utang bisa diselesaikan," ungkap Irfan.
 
Sebelumnya Irfan mengatakan akan menyewa konsultan dan negosiator swasta untuk mencari utang baru demi membayar utang perusahaan yang bakal jatuh tempo. Langkah menyewa konsultan di luar perseroan tersebut diharap mampu menegosiasi utang baru demi mendapatkan harga yang sesuai.
 
"Kalau seperti ini kita mungkin perlu negosiator yang kuat di luar Garuda untuk memastikan bahwa kita mendapatkan harga yang lebih bagus yang kemudian bisa menekan biaya kita untuk kita memungkinkan profitability," kata Irfan Setiaputra di Gedung Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat, 24 Januari 2020.
 
Berdasarkan catatan Ombudsman RI, Garuda memiliki utang sebanyak USD500 juta atau setara Rp7 triliun (kurs Rp14 ribu per USD). Utang perusahaan penerbangan pelat merah tersebut bakal jatuh tempo pada Mei 2020.
 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif