Ketua API Ade Sudrajat. Foto: Medcom.id/Damar Iradat.
Ketua API Ade Sudrajat. Foto: Medcom.id/Damar Iradat.

3 Pokok Pembicaraan Pengusaha Tekstil dengan Jokowi

Ekonomi industri tekstil
Damar Iradat • 21 November 2019 18:32
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memanggil Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Ada tiga hal pokok yang dibicarakan selama pertemuan tersebut.
 
Pertama sejauh mana Foreign Direct Investment (FDI) atau investasi asing langsung bisa masuk ke Indonesia. Serta hambatan-hambatan apa yang masih perlu diperbaiki.
 
"Kedua, investasi dalam negeri berapa yang diperlukan dan bagaimana caranya dan harapannya ekspor bisa meningkat berapa. Tentu ini adalah hal-hal yang kita sampaikan," jelas Ketua API Ade Sudrajat, di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 21 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ade mengatakan, pihaknya juga menyampaikan bahwa Indonesia merupakan pemilik industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terpadu dari hulu sampai hilir. Bahkan, lanjut dia, untuk bahan baku tertentu berasal dari Indonesia. Misalnya bahan baku utama untuk serat, Indonesia menggunakan tiga serat utama yaitu serat kapas.
 
"Kapas Indonesia tidak memiliki tanaman yang kuat sehingga kita harus impor 100 persen. Yang kedua kita memiliki polyester dan kita di polyester ini ada 12 perusahaan yang menghasilkan polyester masih bergantung kepada impornya sehingga kita memberikan harapan besar bahwa ada refinery baru yang didorong pemerintah yang akan memproduksi paracilin dan segala macamnya agar berdaya saing ke depan," jelasnya.
 
Menurut dia, industri polyester ini baru dihasilkan oleh PT Indo Rama Synthetics Tbk yang baru berinvestasi teknologi baru dan paling efisien. Kemudian industri fiber berikutnya adalah industri fiber yang berbasis pada kayu yaitu serat ficus atau dalam bahasa dagangnya rayon. Serat ficus ini berasal dari kayu eucaliptus dan akasia.
 
"Tentu kita memohon kiranya ada hutan tanaman rakyat kita sanggup memberdayakan hingga satu juta hektare (ha) untuk men-drive hutan tanaman rakyat ini menjadi pendapatan masyarakat, khususnya yang berada di Kalimantan," tambah dia.
 
Dia mengatakan, Indonesia memerlukan satu juta ha hutan tanaman rakyat untuk terus men-drive serat ficus yang telah berproduksi mendekati 800 ribu ton per tahun. Serta menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
 
Kemudian investasi dari luar, pihaknya menyampaikan kepada Jokowi bahwa banyak yang ingin berinvestasi di sektor dying finishing printing karena ini merupakan bottleneck industri Indonesia. Hanya saja, tambah dia, rata-rata investor datang ke Indonesia ingin melihat seberapa cepat pelayanan perizinan di Indonesia agar bisa segera beroperasi.
 
"Pada dasarnya kami ingin melihat sustainability proses tekstil ini sehingga tidak merusak lingkungan, dan memperbaiki lingkungan ke depan. Kita juga sampaikan masalah energi, bagaimana pun juga kita menggunakan gas alam supaya harganya jangan terlalu tinggi dibandingkan negara-negara pesaing," paparnya.
 
Terakhir, pihaknya menyampaikan tentang peraturan menteri lingkungan hidup yang perlu dikembalikan lagi kepada yang lama. Sementara aturan baru, kata dia, terlalu ketat sehingga industri yang sudah berinvestasi harus berinvestasi lagi sehingga berimbas pada keuangan perusahaan.
 
"Tentu kita berharap perubahan UU tenaga kerja, UU agraria, dan sebagainya bisa diselesaikan pemerintah dalam waktu, karena seluruh investor menunggu perubahan itu," pungkasnya.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif