10 Perusahaan Indonesia Garap Megaproyek di Kongo. Foto: Medcom.id/Dok. The Sandi Group
10 Perusahaan Indonesia Garap Megaproyek di Kongo. Foto: Medcom.id/Dok. The Sandi Group

10 Perusahaan Indonesia Garap Megaproyek di Kongo

Ekonomi indonesia-afrika
Husen Miftahudin • 23 Januari 2020 20:17
Jakarta: The Sandi Group (TSG) Global Holdings bersama entitas bisnisnya, PT TSG Utama Indonesia dan Titan Global Capital Pte Ltd, menggandeng 10 perusahaan Indonesia untuk berkolaborasi melakukan ekspansi bisnis ke Republik Demokratik Kongo, Afrika. Indonesia dan Afrika bersepakat menjajaki pengembangan bisnis baru di sektor industri strategis, infrastruktur, pembiayaan, pertambangan, tekstil, pemeliharaan pesawat dan perdagangan komoditas.
 
Ke-10 perusahaan Indonesia dimaksud meliputi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA, PT Industri Kereta Api/INKA (Persero), PT Len Industri (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT Naga Putih Nusantara (NPN), PT Nabati Agro Sumatera (NAS), PT Widodo Makmur Unggas (WMU), PT LMP Property & Construction, serta PT Aero Bahteranusa Palapa (ABP).
 
"Skema kolaborasi atau kerja sama yang dilakukan berupa joint operation bisnis. Ada beberapa juga yang joint venture, terutama dengan pihak swasta," kata CEO TSG Global Holdings, Rubar Sandi dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di Kongo, TSG Global Holdings bersama WIKA dan Len Industri akan mengerjakan pembangunan electric solar panel berkapasitas 200 megawatt (MW). Proyek ini juga akan berkolaborasi dengan Sunplus S.A.R.L. Di samping itu, WIKA juga akan mengerjakan proyek pembangunan Bendungan (Water Dam) di Kongo.
 
Selain megaproyek solar panel dan bendungan, bersama PT INKA, TSG Global Holdings juga akan berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur kereta sepanjang 1.700 kilometer (km) pembelian rolling stock, hingga Light Rail Transit (LRT) dari kota ke bandara di Kongo.
 
Sementara di sektor penerbangan, TSG Global Holdings bersama Merpati Nusantara Airlines akan menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan penerbangan di Afrika, khususnya Kongo untuk membuka rute pengangkutan kargo Indonesia-Afrika. Termasuk juga kerja sama dalam hal Maintenance Repair and Overhaul (MRO) dan Training Centre.
 
"TSG Global Holdings juga akan melakukan kerja sama dalam pembelian pesawat NC 212i buatan PT Dirgantara Indonesia," ungkap Rubar.
 
Menurut Rubar, pengembangan bisnis ke Kongo lantaran saat ini beberapa investor Amerika Serikat (AS) sedang membuat target investasi di Asia Tenggara dan Afrika. Terlebih pemerintah AS memberikan dukungan penuh kepada investor yang memiliki rencana investasi di Asia Tenggara dan Afrika.
 
"Dan kenapa kami memilih berkolaborasi dengan perusahaan Indonesia? Karena Indonesia adalah negara terbesar yang telah menggelar Indonesia-Africa Forum pada 2018 dan Asia Africa Infrastructure Dialogue pada 2019. Maka dari itu TSG sangat tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Indonesia, baik BUMN maupun swasta," tutur Rubar.
 
Selain BUMN, TSG bersama lima perusahaan swasta Indonesia juga turut mengembangkan sektor lainnya di Kongo. Bersama PT WMU akan mengembangkan peternakan unggas dengan teknologi terbarukan, PT NPN membangun pabrik pakan ternak, PT NAS untuk pengadaan stok minyak sawit, PT LMP Property & Construction akan melakukan pengembangan kota satellite di beberapa provinsi di Kongo, dan PT ABP akan mengembangkan bisnis transportasi laut dan sungai di wilayah Kongo.
 
Rubar berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat besar bagi kemajuan pembangunan Kongo dan perusahaan-perusahaan Indonesia. Sekaligus menjadi langkah nyata atas hubungan baik antara Indonesia dengan Afrika.
 
"Dengan adanya kolaborasi ini, ke depan akan lebih banyak lagi kegiatan bisnis antara perusahaan Amerika dengan perusahaan Indonesia, baik untuk kegiatan bisnis di Indonesia sendiri maupun di luar negeri," tutupnya.

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif