Ilustrasi (FOTO: Dok Media Indonesia)
Ilustrasi (FOTO: Dok Media Indonesia)

BPK Diminta Audit Kerugian Negara pada Rekap Bank Permata

Ekonomi bank permata
Angga Bratadharma • 23 Juli 2019 15:27
Jakarta: Pemilik Bank Bali Rudy Ramli pada Senin, 22 Juli 2019 mendatangi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melaporkan adanya kerugiaan negara pada kasus Bank Permata yang menelan uang negara melalui rekap bond senilai Rp11,9 triliun. Rudy meminta BPK melakukan audit investigasi atas dugaan kerugian negara tersebut.
 
Rudy diterima Ketua BPK Rizal Djalil bersama tim auditor utama dan staf. Dalam pertemuan itu, Rizal Djalil mempersilakan Rudy menyampaikan persoalan dugaan kerugiaan negara dalam proses pengalihan dan penjualan saham Bank Permata. Menurut Rudy negara diduga merugi saat merekap Bank Bali dan empat bank lainnya menjadi Bank Permata senilai Rp11,9 triliun.
 
Tidak lama setelah direkap, lanjut Rudy, Bank Permata dijual oleh BPPN ke Standard Chartered Bank (SCB) hanya senilai Rp2,7 triliun. Artinya ada indikasi kerugiaan negara di dalam proses rekapitalisasi, merger, dan pelepasan saham Bank Permata.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini lah yang saya maksud terjadi kerugiaan negara yang disebabkan konspirasi pejabat-pejabat BPPN dan SCB. Dan BPK bisa melakukan proses audit ini," kata Rudy, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa, 23 Juli 2019.
 
Upaya Rudy mendatangi BPK merupakan kelanjutan dalam mencari keadilan. Sebelumnya Rudy sudah mendatangi KPK dan meminta agar melakukan investigasi khusus atas adanya indikasi proses transaksi pengambil alihan saham Bank Permata oleh SCB, yang diduga cacat hukum pada 2004.
 
Rudy menilai seharusnya negara tidak akan mengalami kerugiaan triliunan rupiah untuk menyelamatkan Bank Bali. "Karena pada dasarnya Bank Bali sehat, terbukti dapat bertahan dari krisis 1997-1998. Dan keuangannya sangat likuid," tukas Rudy.
 
Di sisi lain, Sanken berharap manajemen Bank Permata untuk segera menutup rekening atas nama PT Sanken Ultra IND. Rekening yang mengatasnamakan Sanken tersebut disinyalir milik pelaku penipuan yang menampung uang para korban. Adapun nomor rekening yang dipakai terus berubah dan diungkap pihak Bank Permata merupakan virtual account.
 
"Nama rekeningnya memang ada kata Sanken, tapi itu bukan punya Sanken. Itu bukan rekening resmi Sanken," kata Direktur Pemasaran PT Istana Argo Kencana (Sanken) Teddy Tjan.
 
Sanken, kata Teddy, sudah menyampaikan permohonan ini kepada pihak Bank Permata dengan melampirkan surat bukti laporan penipuan dari Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Jika ini tidak ditindaklanjuti, ia khawatir akan semakin banyak korban yang kena tipu daya pelaku.
 
"Kan sudah ada surat bukti pelaporan bahwa rekening itu untuk menampung hasil kejahatan, ya Sanken berharap rekening tersebut segera ditutup oleh Bank Permata tanpa harus menunggu adanya permintaan dari pihak kepolisian. Ini korbannya sudah banyak lho," pungkasnya.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif