APBN Perubahan 2018 Dinilai Bisa Memperkuat Gerak Rupiah
Ilustrasi (MI/ROMMY PUJIANTO)
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai upaya pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam mengembalikan kestabilan nilai tukar rupiah lewat kenaikan suku bunga acuan dan intervensi pasar belum sepenuhnya berhasil. Hal itu lantaran suku bunga acuan bukan merupakan instrumen yang langsung berdampak terhadap pasar dan investor.

"Kalau hanya mengandalkan repo rate enggak akan kuat," kata Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto, ketika ditemui di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu, 23 Mei 2018.

Ia menilai pasar tengah menunggu pemerintah untuk melakukan perubahan terhadap asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Perubahan itu mulai dari revisi harga minyak dunia, revisi kurs rupiah, hingga target pertumbuhan ekonomi.

Sebab, lanjutnya, asumsi makro saat ini sudah tidak realistis dengan kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Sudah seharusnya angka-angka ini direvisi. Dugaan saya, pasar menunggu revisi APBN. Sebetulnya yang ditunggu pasar adalah sikap fiskal dari pemerintah,"  tutur Eko.

Penantian pasar terhadap sikap fiskal ini, tambahnya, justru menambah ketidakpastian sehingga rupiah tetap bertengger di level Rp14.000 per USD. Eko mengatakan pasar membutuhkan fluktuasi yang terkendali agar dapat menentukan sikap atau arah ke depan.



"Namanya pasar uang ya enggak mau terus stabil karena dia enggak dapat apa-apa. Dia butuh fluktuasi yang terkendali. Sejauh ini belum bisa dikendalikan, naikin repo rate enggak mempan, dan cadangan devisa sudah menipis," tukasnya.

Sementara pada 2017, masih kata Eko, pemerintah langsung melakukan perubahan asumsi makro lantaran kenaikan harga minyak dunia. Namun tahun ini pemerintah terlalu percaya diri dengan target yang ditetapkan dalam APBN. Padahal kenaikan harga minyak dunia dan depresi rupiah jauh dari perkiraan sebelumnya.

"Perilaku pemerintah itu yang dibaca investor. Kalau sekarang tidak melakukan APBNP perubahan memang di satu sisi menunjukkan mungkin tingkat kepercyaan dan tidak membuat defisit sangat lebar. Tapi di sisi lain investor menguji juga seberapa besar kepercayaan sudah seharusnya angka-angka ini direvisi," pungkasnya.

Adapun nilai tukar rupiah masih bertengger di level Rp14.000 per USD. Pada penutupan perdagangan sore kemarin, kurs rupiah ditutup ambruk semakin dalam hingga menyentuh Rp14.202 per USD. Pelemahan mata uang Garuda mengiringi kejatuhan poundsterling ke level terendah.

 



(ABD)