Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi mengatakan terjadi peningkatan signifikan dalam transaksi penukaran uang pada beberapa hari terakhir. Sehari sebelumnya, realisasi penukaran uang tunai baru sebesar 49,2 persen, sehingga kondisi ini menunjukan kebutuhan uang tunai masyarakat yang meningkat.
"Berarti memang ini minggu-minggu kritikal. Bahwa minggu keempat sebelum Idulfitri itulah biasanya orang berebut untuk tukar uang karena sudah dapat THR," kata dia dalam konferensi pers di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu, 6 Juni 2018.
Dirinya menambahkan, mayoritas penukaran uang tunai oleh masyarakat dilakukan di perbankan. Selain itu, masyarakat mulai memanfaatkan layanan kas titipan, loket BI, serta kegiatan lainnya.
"Penarikan terbesar dilakukan di perbankan, yaitu mencapai Rp95,7 triliun atau 87 persen. Penarikan melalui kas titipan sebesar Rp13,5 triliun atau 12,3 persen, melalui loket BI Rp760,8 miliar atau 0,7 persen, dan Rp28,8 miliar melalui kegiatan lainnya," kata dia.
Berdasarkan wilayahnya, realisasi penukaran tertinggi didominasi oleh Pulau Jawa selain Jakarta sebesar Rp46,1 triliun serta Jabodetabek R 27,9 triliun dan Sumatera Rp 18,3 triliun. Apalagi BI juga membuka 2.076 titik penukaran yang tersebar di seluruh Indonesia, dan 160 di antaranya di Jabodetabek.
"Di tempat-tempat kantor kas, bank, terakhir 5 Juni. Setelah itu, penukaran uang akan bergerak ke arah kas keliling yang bahkan ada di jalur-jalur mudik. Dengan demikian, titik-titik penukaran uang mengikuti arah masyarakat bergerak," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News