Sekretaris Perusahaan Krakatau Posco Christiawaty Ferania Keseger saat menjelaskan, kondisi ini bukan hanya dialami Krakatau Posco saja, tetapi juga dialami industri baja lainnya, namun KP tidak merinci besaran kerugian yang dialaminya. "Berbagai faktor eksternal yang kurang menguntungkan, termasuk turunnya harga komoditas dunia dan krisis Rusia, bukan hanya menimbulkan kerugian terhadap KP tapi juga bagi kebanyakan industri baja lainnya," kata Christiawaty saat dihubungi di Serang, Banten, Selasa (10/3/2015).
Dia menambahkan bahwa insiden kebocoran pada awal 2015 membuat PTKP belum memberikan kontribusi positif kepada induk usaha. PTKP membutuhkan tahapan waktu agar rangkaian mesin yang menggunakan teknologi canggih tungku tanur tinggi stabil pasca insiden tersebut.
"Akibat insiden kebocoran tersebut membuat kami membutuhkan waktu untuk menstabilkan mesin seharusnya utilisasi bisa 100 persen pada Juni 2014," ucapnya.
Dia menjelaskan dalam proses produksi pabrik baja terpadu dengan teknologi tungku tanur tinggi berbeda dengan teknologi lainnya, dimana rangkaian mesin akan stabil secara bertahap (perlu waktu, tidak langsung stabil saat
dinyalakan). Seharusnya kalau sesuai jadwal pada Juni 2014 lalu sudah berhasil mencapai kondisi produksi stabil tersebut dengan utilisasi 100 persen, namun, karena di awal tahun PTKP mengalami kendala insiden kebocoran di blast furnace maka butuh waktu lagi untuk mencapai utilitas 100 persen.
Christiawati memperkirakan membutuhkan waktu hampir tiga bulan untuk pemulihan, dengan kondisi demikian membuat total produksi masih di bawah rencana.
Christiawati mengatakan, jajaran manajemen PTKP melihat prospek industri baja di Indonesia masih sangat bagus. Indikasinya konsumsi baja Indonesia hanya sebesar 50 kg/orang, dan angka ini setidaknya akan bertumbuh menjadi 200 kg/orang.
Di negara-negara maju angka tersebut lebih tinggi lagi. Selain itu, Indonesia harus dapat mandiri dalam pemenuhan kebutuhan baja dalam negeri melalui substitusi baja yang selama ini masih diimpor dengan produk dalam negeri yang jauh lebih berkualitas.
"Jadi, prospek industri baja di Indonesia seharusnya masih cukup menjanjikan dan PTKP dan PTKS akan dapat memenuhi hal tersebut," cetusnya.
Seperti diketahui Pohan Iron and Steel Company (Posco) merupakan raksasa baja dunia asal Korea Selatan berbisnis baja di Indonesia melalui PT Krakatau Posco, perusahaan patungan didirikan bersama PT Krakatau Steel Tbk (Persero). Posco memegang saham 70 persen, sedangkan Krakatau Steel 30 persen.
Menghadapi kondisi demikian, kata Christiawaty, dukungan pemerintah sangat diperlukan, khususnya dalam hal perlindungan produk baja lokal. Pertama, dalam hal pemberlakuan pajak impor, dimana bila dibandingkan dengan Malaysia yang memberlakukan pajak impor sebesar 27 persen, sedangkan Indonesia masih jauh di bawah Malaysia.
"Hal ini membuat produk lokal menjadi kurang kompetitif. Dewasa ini, negara-negara ASEAN semakin memperketat masuknya produk baja impor ke negaranya dengan berbagai cara termasuk meninggikan pajak," tukasnya.
Kedua, pasar Batam. Walaupun Batam sudah ditetapkan sebagai FTZ (Free Trade Zone), namun segala bentuk pajak yang bersifat hukuman seperti anti-dumping, safeguard, dan lainnya yang diberlakukan di wilayah Indonesia, menurut hemat kami dan para pelaku industri baja lokal seharusnya juga diberlakukan di Batam. "Bila tidak ada atau perlindungan terhadap produk baja lokal lemah, maka produk asing dari Tiongkok dan lainnya akan beramai-ramai memenuhi wilayah Indonesia dan kita hanya menjadi penonton saja," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News