"Untuk itu, harus melihat rincian proyek infrastruktur yang akan dibiayai, agar tahu risiko dan pengembalian dana," kata Presiden Direktur BBCA, Jahja Setiaatmadja, ketika ditemui dalam acara paparan publik kinerja BCA 2014, di Hotel Indonesia Grand Kempinski, Jakarta, Kamis (5/3/2015).
Menurut dia, untuk infrastruktur harus melihat bentuknya, seperti power plan, pelabuhan, dan gerbong kereta api. Namun sampai saat ini, pengalaman BCA masih di sektor jalan tol yaitu tol Cipularang, Makassar, dan LSM (Cikampek-Palimanan).
"Kita akan lihat project by project, jangan sampai seperti pertambangan," ungkapnya.
Pendanaan BCA yang bersifat jangka pendek, jikalau masuk ke proyek infrastruktur, maka tidak akan cocok dikerjakan.
"Struktur pendanaan kita enggak bakal bisa untuk mengerjakan proyek infrastruktur. Infrastruktur paling obligasi 5-10 tahun, baru bisa matching. Tapi, obligasi biayanya tinggi. Untuk beri dana murah ke infrastruktur terkendala juga," tutup dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News