Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.

Dendam Basuki Hadimuljono yang Terbalaskan

Ekonomi rehat
Media Indonesia • 17 Januari 2020 11:54
Jakarta: Dua kali 'ditolak' ITB, Menteri Basuki akhirnya mendapatkan gelar impiannya di usianya yang ke-65 tahun. Buah manis dari pengabdiannya selama ini dalam memajukan infrastruktur di Indonesia.
 
Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menganugerahkan doktor honoris causa. Setelah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kali ini yang dianugerahi gelar istimewa itu ialah Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, 65.
 
Pemberian gelar doktor kehormatan dari ITB ini membawa kesan yang mendalam bagi Basuki. Selain wujud pengakuan terhadap kontribusinya, momentum ini pun menjadi ajang 'balas dendam' baginya. Perasaan itu diutarakan Basuki saat orasi ilmiah pertanggungjawabannya meraih gelar tersebut di kampus ITB, Bandung, kemarin. "Hari ini dendam saya kepada ITB terbalas sudah," ucapnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sela-sela pidatonya, dia pun menceritakan pengalamannya saat dua kali ditolak menjadi mahasiswa ITB. Pertama, Basuki mengaku kecewa saat dirinya gagal lolos seleksi saringan masuk S-1 Geologi ITB.
 
"Tahun 1975 saya dari SMA 5 Surabaya datang ke Bandung, tapi enggak keterima ITB," katanya.
 
Basuki yang sangat ingin menimba ilmu di Bandung terpaksa harus mengubur impiannya. Kandas di ITB, Basuki memutar haluan ke Yogyakarta, dan diterima menjadi mahasiswa S-1 Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM).
 
"Ibu saya bilang, kalau tidak di ITB, pulang. Sejak saat itu saya dendam ke ITB, dendam membara," kelakar alumnus S-3 Teknik Sipil, Colorado State University, Amerika Serikat itu.
 
Pengakuannya ini pun langsung mengundang gelak tawa hadirin yang beberapa di antaranya juga merupakan tokoh nasional, seperti mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, serta staf khusus Presiden RI Ari Dwipayana.
 
Tak hanya sampai di situ, lanjut Basuki, pengalaman kurang baiknya dengan ITB kembali terulang 20 tahun kemudian. Saat itu dirinya menjadi staf di Kementerian PUPR dan hendak melanjutkan pendidikan S-2 di ITB. "Saya siapkan semuanya, saya daftar sendiri," katanya.
 
Namun, penolakan kembali diterimanya sehingga lagi-lagi harus mengurungkan niatnya untuk berilmu di ITB. "Akhirnya ditolak lagi. Wah, cari gara-gara nih ITB," kelakarnya lagi.
 
Meski begitu, Basuki mengaku dirinya tetap loyal ke ITB. Bentuk loyalitasnya ini pun diwujudkan dengan pembangunan sejumlah waduk dan infrastruktur lainnya di Jawa Barat yang menjadi lokasi kampus tersebut berada. Setelah dirinya menjabat menteri, rasa balas dendamnya semakin terpenuhi dengan diraihnya gelar doktor kehormatan dari perguruan tinggi yang dulu sempat menolaknya.
 
Penganugerahan ini diberikan bertepatan dengan peringatan 100 tahun ITB. Ketua Tim Promotor ITB, Indratmo Soekarno, mengatakan pemberian gelar doktor kehormatan diberikan kepada Basuki karena laki-laki kelahiran Surakarta, 5 November 1954, itu dianggap dalam pengembangan, pembangunan, dan pengelolan infrastruktur di Indonesia.
 
"Khususnya dalam bidang sumber daya air dan tahan gempa. Pak Basuki telah menghasilkan karya iptek yang sangat bermanfaat untuk peningkatan kesejahteraan bangsa. Pembangunan infrastruktur yang saat ini secara masif tidak terlepas dari perannya," kata Indratmo.
 
Di antara hasil nyatanya ialah mampu mewujudkan pembangunan 65 waduk/bendungan di Indonesia guna menaikkan kapasitas tampungan air dari 12,46 miliar m3/tahun menjadi 16,27 miliar m3/tahun, sedangkan di bidang kegempaan, Basuki telah berhasil merancang infrastruktur tahan gempa yang diakui internasional.

Gebuk Drum

Seusai menerima gelar itu, Basuki mengambil posisi sebagai penggebuk drum di atas panggung. Masih dengan baju wisuda dan toga di kepalanya. Tak lama kemudian, Menteri Perhubungan Budi Karya dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menko PMK Muhadjir Effendy, ikut bergabung dengan Basuki.
 
Lagu Have You Ever Seen the Rain menjadi tembang pembuka, disusul dengan lagu dari Slank yang berjudul Ku tak Bisa. Menteri Budi Karya Sumadi didapuk sebagai sang vokalis, mengajak Pratikno ikut bernyanyi. Sementara itu, Rektor ITB Kadarsah Suryadi juga bergabung sambil memainkan harmonikanya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif