Illustrasi MI/PIUS ERLANGGA.
Illustrasi MI/PIUS ERLANGGA.

Kemenaker Dorong Peningkatan Produktivitas untuk Tekan Kemiskinan

Ekonomi kemiskinan berita kemenaker
Antara • 21 Juli 2019 12:14
Kendari: Direktur Produksi Ditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) Muhammad Zuhri Bahri menyerukan peningkatan produktivitas pada semua faktor untuk menekan angka kemiskinan, dan mendorong Indonesia menjadi bangsa yang kuat secara ekonomi.
 
"Demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan menyejahterakan masyarakat. Semakin produktif masyarakat, maka semakin baik pertumbuhan ekonominya," kata Muhammad Zuhri Bahri, di Kendari, Sulawesi Tenggara dikutip dari Antara, Minggu, 21 Juli 2019.
 
Menurut dia, peran semua pihak terutama pemerintah melalui Balai Peningkatan Produktivitas (BPP) sangat berperan besar dalam mendorong peningkatan produktivitas bagi pekerja dan pelaku usaha.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita punya peran terhadap peningkatan produktivitas dan daya saing di dunia usaha. Dunia usaha ini merupakan sektor perekonomian kita yang perlu mendapatkan sokongan yang sinergi dari kita semua, sehingga tumbuh pengusaha pengusaha yang handal yang mampu berkontribusi, baik dalam kancah regional maupun dalam kancah global," kata Zuhri.
 
Direktur Binalattas itu menargetkan peningkatan produktivitas pekerja Indonesia sehingga kelak mampu melampaui produktivitas tenagakerja negara ASEAN, terutama negara tetangga Singapura yang saat ini di posisi pertama dan Malaysia pada posisi kedua, serta Thailand diposisi ketiga.
 
"Oktober ini kita punya komitmen kuat di dalam rangka meningkatkan produktivitas dan daya saing kita sebagai bangsa di kancah pasar global. Kami menargetkan dua bulan ini bisa melampaui Malaysia dan Thailand," harapnya.
 
Zuhri juga menjelaskan secara nasional produktivitas wirausaha Indonesia saat ini baru mencapai tiga persen dari jumlah total penduduk Indonesia yang jumlahnya 267 juta jiwa. Sementara negara Singapura sudah mencapai 8-9 persen, Malaysia tujuh persen, dan Thailand lima persen.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif