Ilustrasi. Foto : AFP.
Ilustrasi. Foto : AFP.

Lulusan Perguruan Tinggi Harus Paham Revolusi Industri 4.0

Ekonomi Revolusi Industri 4.0
K. Yudha Wirakusuma • 22 September 2019 12:30
Banjarmasin: Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengingatkan para lulusan perguruan tinggi benar-benar melek Revolusi Industri 4.0.
 
Legislator Partai Golkar itu menuturkan ada banyak tantangan sekaligus peluang di era perubahan besar yang berbasis pada kemajuan teknologi informasi itu.
 
Misbakhun menyatakan hal itu saat menyampaikan orasi ilmiah di depan wisudawan dan wisudawati pada Sidang Senat Terbuka Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu, 21 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Revolusi Industri 4.0 memengaruhi cara industri beroperasi dan cara melayani konsumen. Situasi ini memaksa pelaku usaha untuk menyesuaikan diri," ujar dia, dalam keterangan resminya, Minggu, 22 September 2019.
 
Mantan pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Keuangan itu menjelaskan besarnya perusahaan bukan lagi ukuran keberhasilan. Sebab, kini yang dituntut adalah kelincahan dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.
 
Dalam orasi ilmiah bertitel "Kesiapan Daya Saing dan Jiwa Entrepreneur SDM Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0" itu, Misbakhun mencontohkan Grab dan Gojek yang menjadi ancaman bagi pemain-pemain besar industri transportasi. Contoh lainnya adalah Airbnb yang menggerus kampiun perhotelan.
 
"Grab dan Gojek justru tidak memiliki satu pun armada transportasi. Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama industri perhotelan dan tidak memiliki satu pun hotel," tuturnya.
 
Legislator yang dikenal getol mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo itu memaparkan, inti Revolusi Industri 4.0 adalah makin kuatnya peran internet yang memudahkan komunikasi antarmanusia, manusia dengan mesin, bahkan mesin dengan mesin. Karena itu, katanya, peran manusia lebih pada fungsi controling.
 
"Untuk memastikan mesin berinteraksi sesuai yang diharapkan," katanya.
 
Lebih lanjut Misbakhun mengatakan, hal menonjol di era Revolusi Industri 4.0 adalah disrupsi. Kini, nama-nama besar di berbagai sektor industri menghadapi disrupsi. Dia menjelaskan nama-nama besar di industri kalah bersaing bukan karena melakukan kesalahan.
 
Sebagai contoh adalah Nokia yang produk-produknya pernah merajai pasar, namun kini tergusur dan kalah bersaing. Menurutnya, Nokia kalah bersaing bukan karena kurang kreatif ataupun tak berinovasi.
 
"Kini inovasi berkelanjutan yang dulu dianjurkan para ahli, tak cukup lagi. Ini menjadi persoalan besar pada abad ini, sebab kini dunia tengah menyaksikan tumbangnya merek-merek besar yang tak pernah kita duga akan secepat itu terjadi," ulasnya.
 
Karena itu Misbakhun mendorong wisudawan dan wisudawati berani berpikir kreatif dan orisinal. Langkah yang bisa ditempuh adalah dengan membuat perusahaan rintisan atau startup. Kini, lanjutnya, generasi milenial tidak lagi tertarik pada usaha mikro kecil dan menengah. Kuncinya adalah penguasaan pada teknologi informasi dan berani mengambil risiko.
 
"Di banyak negara, bisnis startup diyakini berdampak pada penciptaan lapangan kerja yang besar sehingga mereka diberi ruang dan area khusus serta kebijakan yang kondusif," katanya.
 
Misbakhun berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati untuk kreatif, tahan banting, mampu memahami kebutuhan pasar, serta berani mempelajari hal-hal baru. "Karena itulah yang lebih menentukan kesuksesan di masa depan," pungkasnya.

 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif