Menuju Ketahanan Energi Ramah Lingkungan

Suci Sedya Utami 31 Oktober 2018 21:03 WIB
ketahanan energi
Menuju Ketahanan Energi Ramah Lingkungan
Pertamina. Dok:MI.
Jakarta: Kebutuhan terhadap energi tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya ketahanan energi menjadi salah satu fokus dalam program nawa cita pemerintahan Jokowi-JK.

Namun dampak dari penggunaan energi seringkali memberikan kerusakan bagi lingkungan dan tentu ujungnya berakibat  negatif bagi kesehatan. Hal ini mulai disadari oleh dunia termasuk Indonesia untuk menciptakan energi ramah lingkungan.

Indonesia melalui salah satu perusahaan energi terbesarnya PT Pertamina (Persero) telah memulai berbagai program untuk menciptakan energi hijau (green energy). Sejak beberapa tahun belakangan Pertamina turut serta dalam mengembangkan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan.

Vice President Corporate Communications Pertamina Adiatma Sarjito mengatakan saat ini perseroan tengah menuju pada Euro 4 yang diklaim ramah lingkungan. Dijelaskan Adiatma Euro 4 menghasilkan emisi yang lebih rendah sehingga membantu mengurangi pencemaran udara.

Apalagi Indonesia saat ini telah berkomitmen terhadap perjanjian Paris mengenai upaya untuk mengurangi emisi karbon. Indonesia berkomitmen untuk mengurangi gas rumah kaya sebesar 29 persen di 2030 yang mana sektor energi ditergetkan berkontribusi mengurangi emisi sebesar 314 juta ton karbondioksida (CO2).

"Kita menuju ke Euro 4-5 itu melalui program  (refinery development master plan) RDMP sama kilang baru grass root refinary (GRR) yang ada di Bontang dan Tuban," kata Adiatma pada Medcom.id, di Jakarta, Rabu, 31 Oktober 2018.

Kilang-kilang tersebut nantinya diperuntukkan untuk memproduksi bahan bakar minyak (BBM) dengan kualitas tinggi. BBM tersebut yang nantinya diharapkan memiliki karakteristik ramah lingkungan.

Selain itu, untuk menuju green energy yang lebih masif, Pertamina mengembangkan biofuel generasi kedua. Biofuel genarasi pertama yang sedang dijalankan yaitu biodiesel 20 persen.

Generasi pertama ini pencampuran antara energi fosil dan energi nabati berupa minyak kelapa sawit (FAME) masil dilakukan di Terminal BBM. Untuk generasi kedua pencampurannya akan dilakukan langsung di kilang.

Adiatma mengatakan untuk generasi kedua ini akan menghasilkan campuran BBM yang lebih bagus dengan cetane number yang lebih tinggi. Dia bilang semakin tinggi cetane number pada BBM maka akan semakin sempurna proses pembakarannya.

Sebagai contoh yang saat ini cetane number-nya paling tinggi yakni produk Pertamina Dex (Pertadex) sebesar 53. Dengan kadar sulfur di bawah 50 ppm. "Nanti yang di mixing di kilang cetane number-nya bisa di atas 60. Dia nanti pembakarannya jadi makin lebih sempurna," tutur Adiatma.

Untuk menuju ke biofuel generasi kedua Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan ada dua kilang yang akan disiapkan untuk memproduksi BBM ramah lingkungan. Keduanya yakni  Kilang Dumai di Riau dan Kilang Plaju di Palembang.

"Ada kilang yang kita peruntukkan untuk menghasilkan greenfuel. Itu di Dumai dan Plaju karena suplai CPO-nya dekat di sana," tutur Nicke.

Namun demikian rencana ini masih memerlukan tahapan dan Nicke belum bisa memastikan kapan akan bisa terealisasi. "Sedang dibuat dulu, cari teknologi yang tepat," jelas dia.

Saat ini tahapannya masih dalam uji laboratorium. Pertamina mencoba berkaca pada perusahaan energi di Italia, Eni yang mengonversi pengolahan kilangnya dari fosil ke 100 persen minyak sawit.

Di sisi lain dengan lebih banyak menggunakan bahan baku dari nabati dari CPO akan bisa mengurangi ketergantungan impor minyak mentah. Apalagi pasokan CPO di dalam negeri pun melimpah ruah sehingga penyediaan energi nasional bisa dijamin dari dalam negeri.




(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id