NEWSTICKER
Ilustrasi - - Foto: Antara/ Adeng Bustomi
Ilustrasi - - Foto: Antara/ Adeng Bustomi

Bahan Baku Industri Tekstil Dalam Negeri Melimpah

Ekonomi industri tekstil kementerian perindustrian
Ilham wibowo • 21 Februari 2020 20:51
Jakarta: Kementerian Perindustrian mengklaim ketersediaan bahan baku domestik Industri tekstil dan produk tesktil (TPT) dalam negeri melimpah. Hal ini seiring beroperasinya fasilitas produksi viscose rayon PT Asia Pacific Rayon (APR) di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau.
 
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan terdongkraknya kapasitas nasional di sektor padat karya tersebut bakal mampu mensubstitusi produk impor dan mengisi pasar ekspor. Kehadiran unit produksi ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor terhadap bahan baku tekstil seperti kapas.
 
“Optimalisasi pemakaian bahan baku yang berasal dari dalam negeri menjadi sangat penting dalam mendongkrak kinerja sektor industri TPT di Indonesia,” kata Agus melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 21 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fasilitas baru itu menelan nilai investasi sebesar Rp15 triliun atau setara USD1,1 miliar. Agus menyebut kapasitas produksi viscose rayon akan sebesar 240 ribu ton per tahun dengan target 600 ribu ton dalam beberapa tahun ke depan.
 
Suplai bahan baku perusahaan ini telah melalui sertifikasi nasional melalui Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu dan internasional melalui Programme for the Endorsement of Forest Certification.
 
Melalui dukungan tenaga kerja langsung sebanyak 1.500 orang, pabrik APR tersebut diproyeksi mampu menghasilkan devisa hingga USD131 juta dan substitusi impor mencapai USD149 juta.
 
“Jadi, intinya, pabrik ini merupakan lompatan yang besar dan baik untuk ekspor maupun substitusi impor,” ujar Agus.
 
Kementerian Perindustrian mencatat melalui investasi APR dan PT Rayon Utama Makmur, kapasitas industri rayon nasional saat ini menjadi 857 ribu ton per tahun, naik dibanding 2018 sebesar 536 ribu ton per tahun. Bahkan, dari investasi kedua perusahaan tersebut, berpotensi mendongkrak ekspor hingga USD131 juta per tahun.
 
“Oleh karena itu, kami juga akan melakukan pemberdayaan kepada sektor hilir, terutama industri tekstil dan garmen. Nantinya, kami akan kaji regulasi agar mereka bisa mendapatkan dengan mudah program peremajaan mesin,” ungkap Menperin.

 
Merujuk data Kemenperin, laju pertumbuhan industri TPT terus meningkat tiap tahunnya. Pada 2019, industri TPT tumbuh sebesar 15,35 persen atau naik signifikan dibanding 2018 (tumbuh 8,73 persen) dan 2017 (tumbuh 3,83 persen). Pertumbuhan ini didukung tingginya produksi pakaian jadi di sentra industri TPT.
 

(Des)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif