Pertambangan (ANT/YUSRAN UCCANG).
Pertambangan (ANT/YUSRAN UCCANG).

Jika Berlarut-larut, Virus Korona Ancam Bisnis Tambang

Ekonomi Virus Korona kementerian esdm
Suci Sedya Utami • 11 Februari 2020 19:26
Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan wabah virus korona akan memengaruhi bisnis tambang apabila berlangsung berlarut-larut. Dampaknya akan memukul produksi dan ekspor.
 
Kendati demikian, Direktur Jenderal Minerba Bambang Gatot Ariyono mengatakan hingga kini belum ada laporan dari perusahaan tambang yang mengeluhkan dampak virus Korona pada bisnis mereka. Bambang juga belum bisa memperkirakan berapa besar dampak tersebut pada sektor pertambangan.
 
"Dalam jangka panjang bisa terpengaruh," kata Bambang ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun yang pasti, kata Bambang, untuk komoditas batu bara nasional sampai saat ini belum terlihat dampaknya. Hal ini dikarenakan batu bara dilihat sebagai energi, bukan komoditas untuk industri. Sehingga kebutuhan energi yang masih tinggi tidak akan terpengaruh oleh sentimen negatif korona.
 
Meskipun memang Tiongkok diperkirakan akan mengurangi impor batu bara, termasuk dari Indonesia, hal ini menjadi peringatan dini akan berpengaruh untuk jangka panjang.
 
"Kalau memang industri berkurang, kebutuhan pasokan energinya berkurang, bahan bakarnya berkurang, itu pasti berpengaruh," jelas Bambang.
 
Adapun komoditas yang sudah terpapar virus korona salah satunya yakni timah. Pada perdagangan Jumat lalu, harga timah di bursa London melemah 3,14 persen menjadi USD16.175 per ton. Year to data di tahun ini, harga timah masih terdepresiasi 5,82 persen. Padahal, pertengahan Januari harga sempat membaik ke level USD17.842 per ton.
 
Lebih dari itu, pada tahun lalu harga timah terkoreksi cukup dalam seiring permintaan akibat sentimen perang dagang AS dan Tiongkok. Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang tahun lalu harga timah di bursa London terdepresiasi sekitar 12 persen.
 
Koreksi harga tersebut membuat PT Timah dan pelaku usaha lainnya di dunia memangkas volume produksi dan ekspor demi menstabilkan harga. PT Timah memangkas volume ekspor mulai Juni 2019 sebesar 1.000-1.500 ton.
 
PT Timah juga menyatakan penyebaran wabah virus Korona membuat bisnis perusahaan terkoreksi dan memilih untuk mengerem penjualan ke luar negeri.
 
Direktur Utama PT Timah M Riza Pahlevi Tabrani mengatakan virus tersebut mempengaruhi harga jual komoditas yang mereka tambang. Dia bilang perusahaan memilih wait and see untuk ekspor.
 
"Harga sempat terkoreksi USD17.800, kita tetap wait and see, kalau harga bagus kita tetap meningkatkan penjualan, tapi kalau harga enggak optimal kita akan lihat benefit dari setiap kegiatan ekspor kita," kata Riza.
 
Sekretaris Perusahaan PT Timah Abdullah Umar Baswedan mengatakan dampak dari virus Korona memang tidak langsung menggangu perusahaan. Namun, dampaknya lebih pada pasokan dan permintaan (supply and demand) sehingga mempengaruhi harga.
 
Selain itu, ia bilang peningkatan produksi juga menunggu pergerakan harga yang meningkat. Ia bilang ada kemungkinan untuk meningkatkan produksi sebesar lima persen dari estimasi realisasi produksi di tahun lalu yang sebesar 65 ribu-70 ribu ton.
 
"Tahun ini kita lihat, target sih kemungkinan meningkat sedikit lima persen dari realisasi. Tapi tetap kita menunggu, melihat kondisi harga bagus. Harga kita enggak bisa kontrol, kontrolnya kita maintain jumlah yang kita ekspor. Kita market share di dunia 23 persen, kalau exclude Tiongkok di atas 40 persen," jelas Abdullah.
 

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif