Menristekdikti M. Nasir meninjau Unit Produksi Enzim Milik PT Petrosida Gresik, di Gresik, Jawa Timur. (FOTO: Sholihul Huda/MetroTV)
Menristekdikti M. Nasir meninjau Unit Produksi Enzim Milik PT Petrosida Gresik, di Gresik, Jawa Timur. (FOTO: Sholihul Huda/MetroTV)

Tekan Impor, Unit Produksi Enzim Pertama Diresmikan

Sholihul Huda • 29 April 2017 18:13
medcom.id, Gresik: Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) meresmikan Unit Produksi Enzim pertama di Indonesia, milik PT Petrosida Gresik, di Gresik, Jawa Timur, Jumat 28 April 2017.
 
Melalui unit produksi enzim ini akan bisa menekan kebutuhan impor enzim nasional sebesar 10 persen dari total 2.500 ton kebutuhan enzim per tahun.
 
Dibangunnya unit produksi enzim milik PT Petrosida Gresik ini, berkat kerja sama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Universitas Airlangga Surabaya, untuk terus mendorong perluasan penggunaan enzim di segala bidang di Indonesia, karena bisa menggantikan penggunaan bahan kimia serta pembuangannya ramah lingkungan.

Unit produksi enzim dibangun sejak 2012 di kawasan Bio Center PT Petrosida Gresik, di Kawasan Industri Gresik, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, yang bisa memproduksi enzim sebanyak 200 ton per tahun.
 
"Produksi enzim ini baru bisa memasok sekitar 10 persen dari total kebutuhan impor enzim nasional, yang mencapai 2.500 ton per tahun," ungkap Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, di sela-sela peresmian Unit Produksi Enzim PT Petrosida Gresik, seperti diberitakan Sabtu 29 April 2017.
 
Tekan Impor, Unit Produksi Enzim Pertama Diresmikan
Unit produksi enzim pertama di Indonesia diresmikan.
 
Nasir mengatakan penggunaan enzim yang berasal dari keanekaragaman hayati dapat menggantikan bahan kimia, sehingga ramah lingkungan.
 
"Penggunaan enzim sudah tentu akan berdampak pada limbah industri yang menjadi mudah terurai. Ini sangat penting karena selama ini banyak bahan kimia yang diproduksi," tambahnya.
 
Ia mengaku, dengan produksi enzim dalam negeri, akan menekan ketergantungan impor enzim, pada 2017 yang mencapai Rp200 miliar dari total konsumsi enzim industri di Indonesia.
 
Adanya unit produksi enzim di Indonesia, Badan Pengkajian dan penerapan Teknologi, BPPT, mendorong upaya kemandirian dalam memproduksi enzim nasional, melalui pengembangan teknologi menggunakan sumber daya hayati lokal.
 
Unit produksi enzim di Gresik, akan memproduksi enzim protease dan xilanase. Enzim Protease digunakan untuk penyamakan kulit, dan proses penghilang tinta pada industri kertas. Sementara Enzim Xilanase, digunakan untuk pemutih hayati pada industri pulp dan kertas, biocecomposer dan pakan ternak.
 
"Bioteknologi ini bisa dikembangkan lebih luas karena ramah lingkungan, dan telah bekerja sama dengan para mitra industri pengguna enzim di Indonesia," pungkas Kepala BPPT Unggul Priyanto saat menemani Menristekdikti di Gresik.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AHL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan