Direktur Industri Kimia Hulu Kemenperin Fridy Juwono. FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo.
Direktur Industri Kimia Hulu Kemenperin Fridy Juwono. FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo.

Kebutuhan Garam Industri Mamin Diupayakan Terpenuhi

Ekonomi industri makanan garam
Ilham wibowo • 24 September 2019 19:20
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengupayakan pemenuhan kebutuhan garam bagi industri makanan dan minuman (mamin) sebesar 250 ribu ton. Jumlah tersebut sebagai tambahan 350 ribu ton garam yang telah terserap.
 
Direktur Industri Kimia Hulu Kemenperin Fridy Juwono mengatakan pemerintah tidak bisa menambah kuota impor garam kebutuhan industri yang telah dipatok 2,7 juta ton selama 2019. Rencananya, relokasi bakal dilakukan dengan mengubah alokasi kuota impor garam pada kelompok industri chlor alkali plant (CAP) untuk kelompok industri mamin.
 
"Ada industri CAP, kami minta bisa tidak dia tidak memaksimalkan (penggunaan garam)," kata Fredy ditemui usai forum diskusi terkait garam di Ayana Midplaza Hotel, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa, 24 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Industri CAP sendiri tercatat pengguna terbesar yakni 60 persen dari kebutuhan kuota impor garam nasional. Dua perusahaan yakni Asahi Chemical dan Sulfindo Adiusaha tercatat masing-masing perlu menyerap 1,2 juta ton dan 580 ribu ton sepanjang 2019.
 
Fredy mengaku pihaknya telah berkomunikasi dengan kedua perusahaan tersebut. Langkah merelokasi kebutuhan garam industri jadi pilihan setelah realisasi kinerja perusahaan dinyatakan sedang menurun.
 
"Bisa enggak tidak dimaksimalkan impornya dengan mungkin stok yang tidak terlalu banyak. Ternyata ada peluang dan kami geser, mereka tidak bisa merealisasikan (kinerja) karena produksi tidak tercapai," ungkapnya.
 
Dalam waktu dekat, Kemenperin bakal mengubah administrasi alokasi realisasi impor garam yang tetap pada angka 2,7 juta ton. Sehingga, kebutuhan mendesak bahan baku industri mamin bisa terpenuhi.
 
"Ada proses administrasi, ini dalam proses mudah-mudahan bisa, artinya tidak ada tambahan impor. Kami juga coba dorong dari produsen garam lokal arena tidak ada alokasi lagi," ucapnya.
 
Lebih lanjut, impor garam dinilai selalu menjadi pilihan dilematis. Satu sisi kebutuhan industri perlu terpenuhi, di sisi lain penyerapan petani garam belum maksimal lantaran aspek standar kualitas.
 
Menurut Fredy, pemerintah terus berupaya memaksimalkan kualitas garam produksi lokal. Kuota impor garam untuk industri sebesar 2,7 juta ton pada 2019 sama jumlahnya dengan periode 2018. Bahkan, jumlah impor yang tetap sama tersebut dilakukan tanpa memperhitungkan nilai pertumbuhan industri yang naik per tahun.
 
"Tahun ini alokasi 2,7 juta ton, sama dengan 2018 dan industri itu ada pertumbuhan yang tidak dihitung, sekarang begitu minta enggak ada barangnya," ungkapnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif