Pekerja menyelesaikan pembuatan dompet di industri rumahan sentra dompet dan tas Dusun Grogolan, Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Antara Foto/Syaiful Arif/hp)
Pekerja menyelesaikan pembuatan dompet di industri rumahan sentra dompet dan tas Dusun Grogolan, Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Antara Foto/Syaiful Arif/hp)

Pemerintah Diminta Buat Aturan Perlindungan bagi Pekerja Rumahan

Ekonomi hari buruh
Nia Deviyana • 01 Mei 2019 19:11
Jakarta: Para pekerja rumahan, yang biasa menerima pekerjaan borongan seperti menjahit kancing dan mengelem sandal, meminta pemerintah menerbitkan aturan khusus mengenai pelindungan pekerja rumahan.
 
"Kami butuh pengakuan, karena selama ini sifatnya tersembunyi dan tidak ada perlindungan atas pekerjaan kami," kata Muhayati dari Jaringan Pekerja Rumahan Indonesia di sela aksi memperingati Hari Buruh Internasional di Jakarta, sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu, 1 Mei 2019.
 
Tanpa peraturan perlindungan, Muhayati mengatakan, para pekerja rumahan sering kali menanggung kerugian karena harus mengerjakan pekerjaan pesanan pabrik menggunakan fasilitas pribadi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena dikerjakan di rumah, perusahaan tidak membayar listrik, tidak membayar air. Semua biaya tersebut ditanggung oleh pekerja." keluhnya.
 
Menurut Muhayati, jumlah pekerja rumahan di Indonesia tergolong banyak, tetapi tidak terdata. Selain itu, upah pekerja rumahan juga lebih rendah dari buruh pabrik dan standar Upah Minimum Regional (UMR) yang ditetapkan pemerintah daerah.
 
Dia mencontohkan, teman-temannya yang menerima pekerjaan mengelem sandal mendapat upah Rp300 per sepasang sandal. Itu termasuk harus mengganti Rp14 ribu per pasang sandal jika melakukan kesalahan.
 
"Untuk mengerjakan pesanan itu bisa dari pagi hingga malam hari, belum lagi jika perusahaan minta kami membuat cepat. Kami bisa mengerjakannya 24 jam," tutur dia.
 
Belum lagi pekerjaan tersebut memberi dampak negatif terhadap kesehatan para pekerja lantaran orang-orang yang menerima pekerjaan mengelem sandal harus menghirup bau lem yang menyengat dan membuat udara sekitar rumah menjadi tidak sehat.
 
"Mereka hanya bisa menghidupkan kipas agar bau lem keluar dari rumah. Namun risikonya, badan menjadi kaku akibat terus-menerus kena angin. Mereka juga harus menanggung biaya listrik dari penggunaan kipas angin," terang dia.
 
Adapun dalam pekerjaan ini, lanjut dia, seringkali tidak ada kontrak perjanjian. Pemberi kerja juga tidak memberikan jaminan kesehatan dan jaminan sosial.
 
Dalam mendapatkan pekerjaan, pekerja biasanya mendapatkan pesanan barang-barang tersebut melalui perantara di mana satu perantara bisa membawahi hingga 15 orang.
 
"Jadi nanti perusahaan bayar ke perantara kemudian perantara bayar ke pekerja rumahan," pungkasnya.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif