"Tahun depan prediksi kita nasional tumbuh 4 persen. Target kita sama dengan mempertahankan market share. Kita harus tumbuh sama dengan nasional 4 persen," jelas Corporate Secretary Semen Indonesia Agung Wiharto di Kantor Semen Indonesia, The East Tower, Kuningan, Jakarta, Selasa (15/11/2016).
Harga jual semen, Agung mengakui, sangat sulit di prediksi. Namun, bisa juga harga semen mampu naik ke atas, begitu juga sebaliknya turun ke bawah.
"Tapi tergantung demandnya seperti apa. Itu akan menentukan harga jual. Tapi rasanya kalau melihat situasinya, harganya sulit untuk naik tahun depan. Tapi paling tidak tetaplah," ungkap Agung.
Dalam mendorong pertumbuhan penjualan, perusahaan dengan kode ticker SMGR ini akan meningkatkan produksi, dengan cara memaksimalkan dua pabrik baru yang ada di Rembang, Jawa Tengah dan Indarung VI, Sumatera Barat.
Dengan beroperasinya dua pabrik yang baru di 2017, maka kapasitas terpasang perusahaan akan mencapai 35 juta ton, dari tahun ini yang hanya mencapai 29 juta ton.
"Tahun depan tambahan dari Rembang dan Indarung VI masing-masing punya kapasitas 3 juta ton. Karena pabrik baru, jadi tidak bisa produksi 100 persen. Paling tidak kapasitas terpasang berdasarkan best practice 80 persen di tahun awal. Jadi produksi ada tambahan sekitar 4 juta ton, dari sekarang 29 juta ton," tegas Agung.
Pembangunan pabrik semen Indonesia di Rembang sendiri sudah mencapai 98 persen di akhir Oktober 2016. Paling tidak sampai pertengahan November tahun ini sudah 100 persen.
"Jadi kita tinggal finishing saja yang di Rembang, karena sudah uji coba juga di November dan Desember. Baru awal tahun depan bisa beroperasi untuk pendapatan kita," papar Agung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News