Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar dari Indonesia. Sementara AS merupakan mitra dagang terbesar Tiongkok. Gejolak perekonomian yang dialami kedua negara bisa secara langsung maupun tak langsung akan berdampak ke Indonesia.
Untuk memahami perang dagang ini, tim dari Medcom.id, Kautsar Widya Prabowo dan Arif Wicaksono mewawancari Benny Soetrisno sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan di kantornya beberapa waktu lalu.
Pengalaman Benny sebagai pengusaha tekstil yang kerap berhadapan dengan aktivitas ekspor dan impor pun menjelaskan bahwa tak ada yang perlu ditakuti dari perang dagang. Alih-alih pesimistis, dia malah mengatakan bahwa perang dagang ini tak berarti buruk bagi ekonomi Indonesia selama para pelaku industri bisa mengambil celah dari peluang yang tersirat dari konflik ‘dua gajah’ yang berebut kue ekonomi tersebut. Berikut petikan wawancaranya:
Sebagai pengusaha, bagaimana Bapak melihat perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat yang terjadi baru-baru ini?
Perundingan WTO itu ada prosesnya. Kalau ada divisi di antara dua negara perdagangannya, masing-masing harus mencari jalan keluarnya. Untuk Tiongkok dan AS terhadap Tiongkok duitnya cukup besar, kalau kita sama AS sih surplus tapi enggak banyak, USD7 miliar sampai USD9 miliar, kalau Tiongkok sudah ratusan miliar.
Itu kalau Kamu tanya terkait peperangan ini. Saya sebagai pengusaha melihatnya, cari opportunity-nya (kesempatan), setiap kejadian pasti ada opportunity-nya. Nah karena saya orang tekstil. Contohnya, Tiongkok itu impor kapas dari Amerika paling besar, bikin kain, bikin kaos, kenapa kita enggak ekspor turunannya?
Untuk turunan (komoditas) di ekspor ya pak?
Iya turunannya. Nah Tiongkok akan mengenakan bea masuk terhadap komoditi Amerika lebih banyak, tambahan 25 persen. Nah sementara kalau kita impor dari Amerika kan nol persen bea impornya ke Indonesia. Kenapa kita enggak buat turunannya, baru kita ekspor ke Tiongkok, karena kita dengan Tiongkok sudah free trade.
Kenapa dia gak kita ajak ke sini untuk relokasi industri join dengan domestik kita, kita kan butuh investasi karena kita butuh lapangan kerja yang produknya bisa diekspor untuk pasar Amerika. Daripada kalau ini dibendung dia akan pindahkan industrinya ke Amerika, tapi yang kerja kan orang Amerika, ini tujuannya si Donald Trump kan gitu.
Apapun gilanya Trump pada saat lapangan kerja nambah, interest (bunga perbankan) naik karena ada pergerakan ekonomi, kenapa dulu interest-nya diturunkan karena ekonominya lagi slow, (bunga) dimurahin supaya mau bergerak, soalnya interest-nya naik terus karena dia naik terus. Kalau kita masalah uang, karena dolar tidak tertulis sebagai mata uang dunia, dia balik saja ke kandangnya.
Ada kekhawatiran jika ekonomi Tiongkok melambat, kita yang banyak bertranskasi dengan Tiongkok akan mengalami gangguan.
Kalau Tiongkok (ekonominya) melambat, kan yang berefek itu misalnya batu bara. Kita suplai ke sana batu bara, bukan dia gak ada batu bara, tapi dia ada tapi di interrmall, kira-kira 4.000 kilometer (km) dari isklos, industrinya di isklos semua, ya jadikan lebih murah lebih dekat dari Indonesia beli batu bara, batu bara buat dibakar bukan batu bara untuk besi tapi buat industri untuk pembangkit listrik.
Itu yang akan berkurang, kalau aktivitas ini berkurang, tapi itu menjadi peluang dia bisa ke sini, kaya yang di Morowali, daripada di bawah tanah, yang isinya nikel dibawa ke Tiongkok, itu kan random-nya cuma di bawah satu persen lah, yang lain tanah merah ya kan. Dia ekspor ke AS juga kena bea masuk, dia pindahkan ke Morowali buat mendekati bahan baku kemudian ekspor ke Amerika made in Indoneisia, bukan lagi made in Tiongkok.
Jadi sebaiknya pengusaha Tiongkok joint venture dengan pengusaha lokal?
Iya. Kerena di Veronica, Australia banyak pabrik baja di samping bikin stainless steel, bisa buat besi. Nah besi tambahan terbesar ore-nya dari Australia, karena lebih dekat dari Australia ke Morowali ketimbang dari Australia ke Tiongkok. Nah ujung-ujungnya kunci, tentu dia betul masuk, kedua di cost of logistic, itu di antaranya jarak, jarak angkut.
Saya pernah kritisi, kalau mau bangkitkan industri di luar Jawa, sebaiknya tarif listrik disesuaikan dengan harga input harga bahan bakar. Kalau Kalimantan batu bara dibikin pembangkit listrik, industri yang makan listrik pasti lari ke sana, gak bisa ke Jawa, ngapain ke Jawa. Sekarang kan ramai-ramai batu baranya dibawa ke Jawa. Pembangkit listrik kan banyak di Jawa, Timur, Tengah, mending dibakar di sana saja, terus ada pertanyaan, orang sana gak mau kerja, ya orang Jawa yang kerja.
KEK belum jalan untuk menarik investasi?
Dari sisi cost, sama, biaya listriknya sama, terus apa (yang menarik)? Ada tax holiday untuk menarik investasi dari KEK? Kejadian di Morowali, dulu dia dijanjikan tax holiday, dia minta sulit, akhirnya dapatnya tax allowance. Sekarang pemerintah kasih sebelum dibangun perusahaan mereka sudah dikasih tax holiday dulu, toh belum bisa dipakai, selama menghasilkan baru dapat tax, jadi si investor sudah yakin, 'gua udah punya tax holiday nih', nah sekarang ada, tax terhadap jumlah investasi.
Kalau insentif untuk investasi dan riset. Ini insentif buat edukasi tapi semuanya dalam bentuk keringanan tax. Sekarang ini dari Kementerian Perindustrian ke menteri keuangan, menteri keuangan lagi mengapresiasi kelengkapan hukumnya, kasih di depan ya. Semua tidak hanya KEK. KEK hanya waktunya 25 tahun selesai, sepeti Free Trade Zone (FTZ) pertahanin saja, kan itu sesuai. Dari pada kamu bikin industri karena tujuannya ekspor sama seperti kawasan berikat, begitu berikat ada aparat bea cukai harus ditempatkan di situ.
Mending satu kawasan dibilang FTZ saja, semua jadi kawasan berikat, karena tujuanya emang ekspor yang menurut saya KEK hanya pengulangan saja jadinya. Coba tujukan KEK yang jalan? KEK Belitung enggak jalan belum menarik investor. Dulu Bekasi, Karawang diusulkan menjadi KEK diusulkan orang itu sudah jadi KEK, karena orientasinya ekspor.
Melemahnya mata uang rupiah ini bisa dimanfaatkan untuk ekspor?
Ada, tapi kan butuh waktu, dan barang manufaktur yang nonmigas bahan bakunya kebanyakan di impor, nah sekarang waktunya untuk menyubstitusi. Seharusnya pemerintah menawarkan kepada investor di luar atau di dalam, yang bisa membuat bahan baku, dikasihkan insentif apa, tapi butuh waktu dia harus investasi di sini.
Nah waktu itu saya tawarkan ke Pak Airlangga (Menteri Perindustrian), kita ini butuh kesepakatan nasional interest, kita belum solid. Saya tawarkan satu adalah lapangan kerja, kedua devisa. Siapapun yang bisa menghasilkan dua-duanya apa premisnya, insentifnya apa, jangan samakan yang tidak ngasih dua-duanya dengan yang ngasih.
Dulu zaman Pak Harto kenapa kita bisa ekspor kelapa sawit, ekspor tekstil, itu Pak Harto kasih treatment dari 80-an, bahwa besaran bunga dari banknya berbeda dari sektor yang lain. Kelapa sawit ini bunganya sekarang 18 persen per tahun, dulu dikasih persen padahal dia enggak ekspor. Dia dikasih karena menciptakan banyak lapangan kerjanya. Tekstil juga dikasih sembilan persen per tahun juga karena dia ekspor. Apalagi disitu juga ada lapangan kerja, nah ini yang harus dikasih treatment yang berbeda.
Sekarang berapa besaran bunga bank untuk kelapa sawit?
Semua sama.
India lagi naikkan bea impor untuk CPO, bagaimana dari sisi perdagangan?
Tahun '95 kita sepakat jadi anggota WTO, di sana ada kesepakatan, setiap-setiap negara mengajukan, tarif minimum dan maksimum. Kita maksimum 40 persen, India kalau enggak salah 120 persen, every tarif, maksimum.
Ada kesepakatan kita harus menurunkan, sekarang average delapan persen, tapi ini boleh dilakukan untuk melindungi pasar dalam negeri, dulu kita sepakat 40 (persen), India 120 (persen), jadi India boleh naikkan sampai 120 (persen) dong, dulu Tiongkok enggak mau ikut, Tiongkok ikut 2002, karena 2005 mulai jalan WTO, dia masuknya di belakang. Itu namanya cerdik.
Nah kita itu ada komitmen antidumping dan komite penanganan pasar di bawah Kementerian Perdagangan (Kemendag), ini yang harus diperkuat, sayangnya yang ditaruh di sini yang sudah mau pensiun, yang dianggapnya enggak penting, padahal pasar kita besar. Karena kalau kita mengundang investor ke sini, rata-rata investor itu untuk pasar dalam negeri, jarang investor ke Indonesia, yang mau investasi untuk diekspor. Pasar dalam negeri tujuannya, karena jumlah orangnya banyak banget.
Kan dagang ada yang nyerang, ada yang bertahan. Dulu Tiongkok pertama bertahan, makanya dibilang negara Tirai Bambu. Pokoknya barang gak boleh masuk dari luar, begitu dia kuat, dia buka terus dia nyerang, makanya Jack Ma bisa besar karena semua gak boleh masuk. Jadi dia pesta pora di sana.
Harusnya Komite Anti Dumping seperti apa Pak?
Harus diperkuat.
Idealnya akan seperti apa Pak?
Komite antidumping itu, akan kerja kalau ada pengaduan dari masyarakat atau dari industri yang mengatakan, ada barang yang saya produksi dari Tiongkok, di sini dijual lebih murah ketimbang dia menjual di negaranya, ini prosesnya lama karena komite ini akan bertanya pada eksportir, di sana minta bukunya, kok kamu bisa menjual lebih murah, kalau itu ketemu, barang dia masuk ke sini dikenakan bea masuk tambahan.
Jadi di WTO itu ada tiga instrumen, satu antidumping yang diceritakan, dua counter failing duty, kalau dia di sana dikasih subsidi 10 persen maka bea masuk ke sini ditambahin 10 persen, terus yang ketiga itu safe guard, jadi seluruh dunia sendal jepit enggak boleh masuk, karena tujuan untuk melindungi pelaku industri dalam negeri. Ini yang harusnya melibatkan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), mengenai hubungan diplomatik.
Pelaku industri sudah memberikan masukan ke pemerintah?
Kita dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sudah bikin kajian. Kan selama ini kita bikin kajian untuk pemerintah, misalnya selama ini dengan Eropa sedang berunding CEPA, lalu dengan AS TIFA juga belum SLS.
Kalau lihat defisit kita makin besar dari tahun lalu, itu ada ketakutan gak?
Makanya itu spekulasi kan ya, seperti di Vietenam mata uang dong sudah 25 ribu per USD, tapi ekspor barangnya jalan saja terus.
Thailand juga bagus?
Thailand yang ditakuti rajanya, bilang akan jadi dapur dunia, fokus di makanan saja. Baru kemana-kemana. Makanya kalau makan buah, kalau bagus 'wah pasti jambu Thailand, duren Thailand'. Kita impor dari Thailand, tanahnya besaran siapa? Besar kita, mereka ngurusnya benar, kita enggak bener, habis itu dibikin otonomi daerah makin gak benar lagi.
Sampai akhir tahun bagaimana defisit perdagangan kita?
Tetap surplus tapi akan berkurang. Perdagangan barang dari dulu surplus cuma berkurang. Karena ekspor juga naik, impornya juga naik. Naiknya eskpor itu lebih rendah dibandingkan naiknya impor. Sama saja waktu impor itu kalau kita lihat duitnya yang besar kan bahan baku sama bahan penolong. Baru kedua barang modal, yang paling kecil konsumsi, tapi kenaikan persentase yang naik itu konsumsi.
Ekspor yang melambat ini secara global?
Enggak, justru ekonomi global melambat, bagus itu hanya satu berita dan itu selalu terjadi, tinggal kita menyikapinya saja. Strategi ekspor kita yang kurang karena bahan baku untuk kepentingan domesik maupun untuk kepentingan ekspor kita lebih banyak itu sebetulnya berita bagus dari sisi gerakan di industri.
Berarti konsumsi tumbuh ya?
Iya tumbuh dong, setiap tahun kalian bikin anak, berapa juta itu, sejumlah penduduk Singapura setiap tahun. Dari 250 juta, yang produktif misalkan 10 persen.
Anggap dua persen penduduk melahirkan anak dari total 250 juta. Itu sudah lima juta bayi, butuh pampers, susu, popok, vitamin, setiap tahun. Jumlahnya sekali penduduk Singapura, setiap tahun tumbuh penduduk singapura di Indonesia. Kenapa Nestle besar? Karena itu, semua butuh odol, butuh sabun. Semuanya sekali pakai selesai. Pasarnya besar bangat.
Kalau saya positif, karena bahan baku naik terus, ada opportunity orang bikin industri bahan baku di sini, kalau mau nurunin importasi. Dan si pengguna, lebih senang kalau di dalam negeri, karena dia enggak usah stok banyak, just in time saja. Contohnya saya punya pabrik benang satu dari kapas, poliester, rayon, dari tiga itu hanya kapas yang diimpor, poliester industri, terus rayon yang bikin di Purwakarta.
Ini sudah dalam negeri, saya bisa impor karena lebih murah, tapi saya gak mungkin impor untuk kebutuhan sehari dua hari, saya harus impor satu bulan jadi ketika barang datang, enggak hari itu habis. Selama sebulan ada biaya uang, kalau dalam negeri tiga hari saja, setiap tiga hari saya suruh truk saya ke sana, lebih singkat, biaya lebih murah.
Artinya ini opportunity, yang pertanian gak bisa, karena bisa tumbuh sendiri, kaya kapas enggak bisa di sini, karena butuh air tapi enggak butuh kelembaban, di Indonesia kelembaban 80-90 persen. Cocoknya di daerah kering seperti Australia.
Kedelai itu tanaman subtropis, itu enggak tahu nenek moyang kita salah itu. Di kita tropis, bisa tumbuh tapi yield satu hektare (ha) itu lebih rendah dibandingkan dengan di Tiongkok atau Amerika, maka yang terbiasa yang lokal lebih gurih katanya. Kedelainya kecil-kecil, kalau impor besar-besar, karena tumbuhan sana. Kita juga bisa tumbuh apel, tumbuh anggur, ya hasilnya beda dengan tempatnya seharusnya.
Lebih murah dengan impor dibanding bikin?
Persis, karena Australia ini tanahnya rata, kalau rata, sangat mudah dilakukan dengan mekanisasi besar-besaran. Kita juga bisa, tapi mekanisasi yang kecil-kecilan, misalnya baja, pakai mesin condir, mereka pakai buldozer panjang. Kita sudah kalah.
Kalau sudah kalah gitu, harus cari yang bisa menang apa, nah tadi ketemu kelapa sawit, padahal kelapa sawit tanaman Afrika, di sini cocok, karena kelapa sawit butuh air, jadi yang yield-nya tinggi pasti dekat air.
Dulu Belanda ada bagusnya bikin penugasan penanaman padi, yang sering disebut tanam paksa, tapi itu bukan tanam paksa, ditanam berdasarkan hara tanah, jadi yang dipetakan agronominya, itu ini cocoknya untuk apa, baru dicarikan barangnya, sampai ada satu tempat air enggak ada, tandus cocoknya apa, dicari sampai dapat. Di Brasil, kayu jati. setiap dekat dengan pegunungan kapur, di Buton Jawa, tanamin jati, jadi agronomi.
Jadi tidak hanya melibatkan ekonomi dan teknokrat, juga harus dilibatkan, orang-orang sosial, antropolog, karena karisedanan agronomi itu. Misalnya Belanda bawa kelapa sawit, semua bisa tumbuh, tapi kan paling baik di Sumatera Utara. Di sawit itu ada kelasnya, ada 1, 2, 3 tanahnya.
Pas perang dagang Tiongkok dan Amerika Serikat, produk Tiongkok bisa masuk ke Indonesia dengan Made in Indonesia?
Itu kan diproses, sebelumnya itu pernah tejadi pada tahun '80-an, Taiwan kirim produk ke Indonesia, kita hanya nge-pack saja dan kasih label kemudian kirim ke Amerika, ditulisnya made in Indonesia, labelnya made Indonesia. Padahal kita hanya ngerjain labelnya doang.
Tapi Amerika pintar, sekarang dia buka kantor bea cukai di Sigapura, Hong Kong, dia tahu betul, kalau kita biasa jual ikan misalnya ke Amerika biasanya 10 ekor, dan tiba-tiba 50 ekor, dia akan cek, di mana ikannya ngemasnya di mana. Ke Kemenperin, nyambung ke bea cukai servernya, jadi kalau satu barang kenaikannya di atas rata-rata itu harus dicurgai, itu namanya circle finsion, kapal selam.
Potensi kaya gitu enggak ada lagi?
Ada, ada, tapi itu ada risikonya. Dulu juga kita pernah kena, dulu ekspor tekstil ke Amerika, menerapkan kuota, kuota Tiongkok sudah habis, barang Tiongkok dikirim ke Bali, dari Bali diekspor ke Amerika, pakai kuota kita, karena kenaikannya tiba-tiba. Dia cek mana pabriknya, terus kurang pabriknya dan kapasitasnya, ditangkap akhirnya.
Sanksinya apa?
Ya kuotanya dikurangi, negara dua-duanya kena. Karena Amerika sadar betul dia itu pasar, nah kalau dia pasar, itu akan memukul industri dia kan, seperti Detroit jadi kota mati. Karena dulu Ronald Reagen, sudah lah barang-barang itu kasih orang Asia saja yang bikin, kita bikin yang showbiz saja, film, pertunjukan, hard-nya kita kapal terbang saja.
Tapi kan populasi mereka naik terus, mau dikasih kerjaan apa, hingga dia defisit terus, ngutang terus, tapi kan dia utang, orang juga tidak berani nagih, dan enggak ada yang berani nagih. Kaya Tiongkok disandera Amerika, kalau enggak dikasih utang, Amerika enggak beli, terus Tiongkok mau jual ke mana? Cuma dalam negeri, kalau dia enggak punya duit kan bisa beli, makanya dia ngutang bikin sesuatu di dalam negeri.
Nah sekarang Trump gak mau, karena dia pengusaha, dia ambil sikap. Kalau 'gua utang terus bayarnya gimana', moso bayarnya pakai industri, karena lama-lama habis juga yang bayar orang lain.
Terkait rencana pencabutan Generalized System of Preferences (GSP) oleh Pemerintah AS, apa tanggapan pengusaha?
Jadi GSP itu ada 124 item. Sampai sekarang deskripisnya masih belum tahu, yang saya tahu, saya pernah dapat. Industri tekstil itu lima tahun yang lalu sudah dikeluarkan dari GSP, karena income per kapita kita naik terus. Dulu kita di bawah USD1.000 per kapita.
Itu seperti jumlah nilai, seperti Indonesia saya kasih satu miliar, nanti kapan makainya, siapa saja duluan, biasanya Mei sudah habis. Nah karena itu importir sana enggak bayar biaya masuk penuh, karena dia yang dapatt GSP dengan kita, maka bea masuk ditanggung pemerintah AS. Termasuk insentif di kita dong, karena dia beli dari kita, negara kita privilage biaya masuk ditanggung pemerintah AS. Di sini bea masuk ditanggung pemerintah, di APBN kita berapa duit, siapa yang bisa makai. Itu ada di kita.
Kabarnya GSP yang mau dicabut untuk industri tekstil dan kayu?
Tekstil sudah enggak ada, asal nyebut saja itu. Makanya kita ingin tahu 124 item itu apa saja, kamu bisa tanya ke Imam Pambagyo (Dirjen Luar Negeri Perdagangan Kerja Sama Luar Negeri), tanya 124 item itu apa saja. Selama ini ada enggak surat Kementerian Perdagangan ke kita.
Yang ngomong pertama kali itu, Pak Sofyan Wanandi?
Pak Sofyan asal ngomong dari berita juga, dari kalian juga, makanya pas Apindo di pidato, saya ngacung, tekstil sudah lama enggak ada (GSP).
Pemerintah mau kasih kemudahan bea impor mesin tekstil, bagaimana tanggapannya?
Itu meringankan, kalau kita impor mesin, dibebaskan bea masuknya kan, suatu keringanan, atau PPn impor ditanggung pemerintah, sekarang kalau kamu impor, kamu harus tiga komponen, pertama bea masuk, kedua pajak impor nanti akan bisa direkomendasi pada saat kamu jual barang.
Lalu ada PPh impor 2,5 persen, ini bisa rekomendasi terhadap PPh 36, pajak penghasilan perusahaan, seperti perusahaan membayar pajak di awal, duluan lah kaya uang muka (DP), nanti kalau perusahaan akhir tahun untung, harus bayar pajak untuk pemerintahnya dikurang dia pernah bayar berapa sebagai pengurang.
Kalau logis mestinya (PPN) nol persen, nah kalau mau diberi keringanan pemerintah. Selama mesin ini belum diproduksi di sini, harus bikin, bea masuk nol persen kalau impor (seharusnya).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News