Bank Mandiri. Foto : MI/ADAM DWI.
Bank Mandiri. Foto : MI/ADAM DWI.

Indef: Persaingan Bank dan Fintek Kian Ketat

Ekonomi perbankan fintech
Ilham wibowo • 06 Februari 2020 16:41
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut persaingan industri perbankan kian ketat terutama dengan kehadiran jasa keuangan berbasis finansial teknologi (fintek). Hal ini tercermin dari pertumbuhan nilai transaksi debit dan kredit yang melambat signifikan di 2019.
 
Peneliti bidang digital ekonomi Indef Hanif Muhammad memaparkan dalam konteks konsumsi domestik, BPS mencatatkan nilai transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit yang sempat tumbuh sebesar 13,81 persen di kuartal IV-2018 akan tetapi melambat dengan hanya tumbuh 3,85 persen di kuartal IV-2019.
 
"Ini dapat memperlihatkan konsumsi masyarakat yang menurun dan juga memperkuat argumen bahwa persaingan bank kian ketat, terutama dengan kehadiran fintek," kata Hanif ditemui ditemui di ITS Office Tower, Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis, 6 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hanif menambahkan, catatan tersebut sejalan dengan pernyataan Bank Indonesia (BI) yang sempat menyatakan bahwa uang beredar turun karena beralih ke uang elektronik, debit, dan kartu kredit. Akan tetapi, data tersebut juga menunjukkan bahwa transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit yang mengalami perlambatan.
 
Hanif memandang penggunaan super-app yang terintegrasi dengan transportasi online, e-comerrce, hingga hiburan yang terkoneksi dengan uang elektronik dan dompet digital berpengaruh signifikan terhadap melambatnya pertumbuhan transaksi debit dan kredit perbankan. Sampai dengan pertengahan 2019 setidaknya ada 38 dompet elektronik yang telah mendapatkan lisensi resmi dan jumlahnya terus meningkat seiring dengan terus berkembang dan terintegrasi berbagai platform ekonomi digital.
 
"Pemerintah dan BI sebagai regulator dalam sistem pembayaran harus semakin aktif untuk terlibat dalam pengembangan solusi sistem pembayaran termasuk dalam isu-isu blockchain dan cryptocurrency," tuturnya.
 
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan hingga kuartal IV-2019 terjadi perlambatan konsumsi rumah tangga terjadi di penjualan eceran makanan, minuman, dan tembakau yang hanya tumbuh 1,52 persen. Catatan ini berbeda cukup jauh bila dibandingkan dengan kuartal IV-2018 yang tumbuh mencapai 4,73 persen.
 
Pelambatan juga diperparah dengan terjadinya kontraksi pada pertumbuhan penjualan wholesale sepeda motor negatif 5,60 persen dan mobil penumpang sebesar 7,24 persen. Sedangkan untuk nilai transaksi uang elektronik, kartu kredit, dan kartu debit tercatat hanya tumbuh 3,85 persen atau lebih rendah bila dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal yang sama 2018 sebesar 13,81 persen.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif