Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI yang melambat pada 2019 yaitu pada angka 5 persen, dinilai masih wajar (Foto: Antara/M Risyal Hidayat)
Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI yang melambat pada 2019 yaitu pada angka 5 persen, dinilai masih wajar (Foto: Antara/M Risyal Hidayat)

Pertumbuhan Ekonomi 5% Disebut Angka Realistis

Ekonomi PT SMI
M Studio • 01 November 2019 15:58
Jakarta: Penguatan ekonomi nasional di tengah ancaman resesi global dapat dilakukan dengan menjaga stabilitas daya beli masyarakat Indonesia. Langkah ini dinilai paling cocok diterapkan untuk skema jangka pendek.
 
Rektor terpilih Universitas Indonesia (UI) yang juga guru besar ilmu ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Ari Kuncoro mengatakan, idealnya pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 11-12 persen. Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI yang melambat pada 2019 yaitu di angka 5 persen, dinilai masih wajar.
 
"Yang penting sebetulnya adalah daya beli. Jadi, dengan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen hingga 5,5 persen asalkan inflasi bisa ditahan sekitar 3 persen, sudah cukup bagi Indonesia untuk menjadi negara kelas menengah," kata Ari, ditemui pada diskusi bertajuk Ngobrol Pembangunan Indonesia (Ngopi) di The Maj, Senayan Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ngopi mengupas proyeksi ekonomi Indonesia 2020. Acara ini diselenggarakan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) Persero bersama Research Center Media Group (RCMG). Hadir juga sebagai pembicara dalam acara yang dipandu host Metro TV Andini Effendi tersebut mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, dan ekonom PT SMI.
 
Ari melanjutkan, mempertahankan stabilitas level pertumbuhan ekonomi nasional bukan hal yang mudah dilakukan. Namun, Guru besar ilmu ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) itu optimistis kehadiran investasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia mulai bisa dirasakan pada akhir 2019, atau awal 2020.
 
"Sekarang masih pada level pemula, tapi kalau itu dipertahankan kita bisa menuju ke sana (level menengah). Negara lain pertumbuhan ekonominya lebih rendah daripada Indonesia dan hanya beberapa yang lebih tinggi," ucap Ari.
 
Ari tak sependapat jika pertumbuhan dipaksakan hingga mencapai 5,8 persen karena akan mengorbankan keseimbangan ekonomi, terutama nilai inflasi. Penyebabnya, kebutuhan impor barang modal sektor industri manufaktur RI saat ini tercatat masih tinggi dan butuh waktu menuju perbaikan.
 
"Kita realistis saja, kita sudah berhasil meredam inflasi. Keseimbangan itu menjadi kunci Indonesia bisa menjadi negara berpendapatan menengah dan nanti akan menjadi negara maju," ujarnya.
 
Chatib Basri menambahkan, perlambatan ekonomi saat ini tak seburuk krisis keuangan global pada 2008-2009. Kala itu, volume perdagangan dunia termasuk Amerika Serikat (AS) negatif. Sementara, Indonesia mampu tumbuh 4,6 persen.
 
"Sekarang, situasi tidak seburuk itu. AS jauh lebih baik. Walaupun resesi terjadi, tapi tidak seburuk 2008. Logikanya sederhana. Mestinya gross bisa lebih tinggi dibandingkan 2008-2009. Kalau bicara 4,6 persen, di atas itu. Lima tahun terakhir, kita tumbuh 5 persen. Akan ada perlambatan, tapi tidak signifikan," kata Chatib.
 
Chatib optimistis arah perekonomian akan bangkit dengan fokus utama pada investasi dan peningkatan ekspor. Ia sepakat hal yang mesti dilakukan untuk jangka pendek, yakni menjaga stabilitas daya beli masyarakat.
 
"Kita harus tumbuh lebih cepat berkaitan dengan ekspor dan investasi. Jangka pendek harus jaga stabilitas, daya beli bisa diperbaiki dengan PKH (Program Keluarga Harapan) hingga cash for training, medium term harus meningkat terutama investasi ekspor dan perizinan," tuturnya.
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif