Deputi Jasa Keuangan, Jasa Survei, Konsultasi, Kementerian BUMN Gatot Trihargo. Medcom/Ayu.
Deputi Jasa Keuangan, Jasa Survei, Konsultasi, Kementerian BUMN Gatot Trihargo. Medcom/Ayu.

Alasan Survai Penas Jadi Induk Holding Penerbangan

Ekonomi holding bumn
Annisa ayu artanti • 22 April 2019 14:33
Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membeberkan alasan memilih PT Survai Udara Penas (Persero) sebagai induk holding penerbangan membawahi PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero) dan PT Garuda Indonesia Tbk (Persero).
 
Deputi Jasa Keuangan, Jasa Survei, Konsultasi, Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan perusahaan yang menjadi induk holding harus dimiliki oleh negara 100 persen. Sementara Garuda Indonesia merupakan perusahaan terbuka.
 
“Survai Penas menjadi salah satu opsi sebagai holdingnya. Garuda tidak bisa menjadi holding karena Garuda sudah Tbk,” kata Gatot di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin, 22 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gatot juga menjelaskan Survai Penas saat ini memiliki lingkup bisnis yang jauh lebih sederhana dibandingkan anggota holding lainnya yang cukup kompleks.
 
Angkasa Pura I, selain mengelola bandara, juga memiliki bisnis di bidang perhotelan, properti, dan logistik. Sementara Angkasa Pura II memiliki bisnis di bidang properti, kargo, dan jasa konsultasi manajemen bandara. Sementara itu Garuda Indonesia memiliki lebih banyak sektor bisnis seperti pariwisata, logistik, jasa perawatan penerbangan, jasa ground handling serta jasa layanan konsultasi.
 
“Dia kan spesial company itu akan lebih mudah. Kan ada yang non Tbk ada AP I dan AP II tapi mereka kompleksitasnya tinggi jadi kita mau ke depan operational strategic holdingnya,” jelas Gatot sambil menjelaskan bahwa Survai Penas pada 2018 telah membukukan laba sebesar Rp3 miliar.
 
Sejauh ini, lanjut Gatot, pihak Angkasa Pura dan Garuda Indonesia sangat terbuka dengan opsi Survai Penas sebagai induk holding. “(Angkasa Pura dan Garuda) Welcome. Tidak ada masalah di holdingnya. Yang penting gimana mereka fokus dan laverage balance sheetnya,” ujar Gatot.
 
Kementerian BUMN berharap pembentukan holding penerbangan tidak menemukan kendala sehingga bisa terealisasi tahun ini. “Tahun ini Insyaallah,” pungkas Gatot.
 
Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menjelaskan alasan Kementerian BUMN menginginkan pembentukan holding penerbangan atau perhubungan udara.
 
Ia mengatakan ingin membuat industri penerbangan Indonesia seperti industri penerbangan di Qatar dan Uni Emirat Arab. Dua negara tersebut telah menggabungkan antara perusahaan maskapai penerbangan dengan perusahaan pengelola bandara.
 
"Karena ke depan kalau kita melihat, adalah bagaimana kita lihat di negara lain, seperti di Doha bandaranya dengan penerbangannya Qatar Airways, di Dubai itu juga dubai airport juga sama dengan Emirates," kata Rini saat ditemui di Kantor BEI, Senin, 15 April 2019.
 
Rini juga menjelaskan alasan pembentukan holding penerbangan karena kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Transportasi udara dinilai perlu sebagai transportasi utama untuk menghubungkan gugusan antar pulau di Indonesia.
 
"Satu yang perlu diingat, bahwa negara ini itu adalah negara kepulauan, artinya dibutuhkan banyak transportasi udara," ujar Rini.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif