Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengaku, dirinya belum mendapatkan informasi secara resmi dari Panasonic dan Toshiba. Namun dia memperkirakan tutupnya kedua perusahaan itu lantaran kalah bersaing dengan produk-produk elektronik dari perusahaan milik Tiongkok.
"Kalau berdasarkan informasi yang kami terima tentu ada satu pihak yang menyampaikan bahwa dari sisi kompetisi mereka produknya kalah dengan produk Tiongkok," tutur Franky, di Gedung BKPM, Jalan Jenderal Gatot Subroto No 44, Jakarta Selatan, Rabu (3/2/2016).
Dia meyakini kabar tutupnya dua pabrik milik Panasonic dan satu pabrik Toshiba di Indonesia tak akan berpengaruh banyak terhadap iklim investasi dalam negeri. Hal ini melihat dari catatan BKPM yang menyatakan izin prinsip di sektor produk elektronik justru meningkat 106 persen.
Namun, Franky mengaku belum bisa berpendapat lebih lanjut jika belum ada laporan dari kedua perusahaan tersebut. Dia masih berpandangan aksi dua korporasi itu merupakan langkah restrukturisasi dalam rangka efisiensi.
"Kita lihat secara keseluruhan sebenarnya masih ada peningkatan dalam komitmen investasi di sektor ini. Bukan berarti mereka mati, tapi mungkin switch ke produk lain. Menurut kami belum tentu tutup, mungkin dia restrukturisasi," pungkas Franky.
Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal memperkirakan ada 2.500 buruh yang sedang terancam di PHK. Hal itu menyusul tutupnya dua pabrik milik Panasonic dan satu pabrik Toshiba.
Pabrik Toshiba yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat telah menutup pabriknya. Pabrik tersebut merupakan pabrik terakhir milik Toshiba yang ada di Indonesia. Pasalnya dalam 10 tahun terakhir Toshiba telah menutup enam perusahaannya di Indoensia.
Sedangkan untuk perwakilan Toshiba yang ada di Indonesia saat ini sudah tidak ada lagi. Hanya tersisa Toshiba Printer yang berlokasi di Batam, Pekanbaru. Sementara untuk jumlah karyawan Toshiba yang terancam menganggur berjumlah 900 orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News