Ekonom Senior INDEF Aviliani (MI/ROMMY PUJIANTO)
Ekonom Senior INDEF Aviliani (MI/ROMMY PUJIANTO)

Perbankan hingga Properti Harus Ubah Model Bisnis

Ekonomi pertumbuhan ekonomi perbankan properti ekonomi indonesia Revolusi Industri 4.0
Nia Deviyana • 02 April 2019 15:15
Jakarta: Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani menilai perusahaan mesti mengubah model bisnis mengikuti ekosistem terkini agar bisa bersaing di era industri 4.0. Pasalnya, ekosistem pasar juga ikut berubah di mana 40 persen konsumen telah didominasi generasi milenial.
 
"Dalam waktu dekat, presentasenya bakal bertambah di angka 60-70 persen," kata Aviliani, saat mengisi diskusi bersama Fakultas Bisnis dan Ekonomi Unika Atma Jaya, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 2 April 2019.
 
Beberapa perusahaan yang harus mengubah model bisnisnya, menurut Aviliani, antara lain perbankan dan sektor properti. Perubahan itu menjadi penting guna mempertahankan laju bisnis, termasuk mengembangkannya di masa-masa yang akan datang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bank yang tidak berekosistem menjadi digital akan susah bertahan, karena si milenial ingin cuma punya satu produk yang bisa buat ngapa-ngapain. Era properti juga berubah. Meski pasarnya ada, tapi apakah mampu memenuhi kebutuhan milenial?" terangnya.
 
Aviliani menambahkan sudah banyak perusahaan tutup karena tidak mampu mengubah ekosistemnya sesuai permintaan pasar. Yang disayangkan, justru perusahaan-perusahaan lama yang merintis bisnisnya puluhan tahun yang harus tutup.
 
"Ada banyak perusahaan lama tiba-tiba tutup itu memang salah perusahaannya. Kenapa? Permintaan pasar sudah berubah, dia bisa enggak, mengubah model bisnisnya sesuai permintaan. Contoh Nyonya Meneer, tahun 1.800 lahir kenapa mati? Mungkin kurang inovasi, sekarang orang enggak suka lagi jamu yang pahit," tukasnya.
 
Sebelumnya, pemerintah perlu lebih mengembangkan ekonomi digital di Nusantara dengan mengeluarkan kebijakan yang benar-benar mendukung optimalisasi peranan pendidikan vokasi. Hal itu penting guna menciptakan SDM bidang literasi digital yang memadai.
 
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Krishnamurti mengatakan mengoptimalkan pendidikan vokasi membutuhkan kerja sama banyak pihak, seperti pemerintah daerah dan juga industri. "Sinergi keduanya diharapkan bisa membuat kurikulum dan pengajaran yang diterapkan menjadi tepat sasaran karena sesuai dengan kebutuhan industri," ucap Indra.
 
Pemerintah daerah, lanjutnya, harus mampu mengidentifikasi potensi daerahnya agar bisa dikembangkan dan disesuaikan dengan kurikulum dan industri yang ada di daerah tersebut. Sedangkan terkait pengembangan ekonomi digital yang diharapkan mampu menyentuh semua sektor, pemerintah daerah juga sebaiknya memiliki perencanaan yang matang.
 
Hal itu tentunya soal pengembangan fasilitas SMK yang mendukung kegiatan praktek para siswa. Tidak ditampik pengembangan pendidikan vokasi masih menemui banyak hambatan. Di antaranya adalah mengenai kurangnya fasilitas penunjang, tempat praktek dan juga laboratorium.
 
"Kurangnya fasilitas ini menyebabkan para siswa yang menempuh pendidikan vokasi tidak memiliki cukup sarana untuk mengembangkan keahliannya dan sulit mengikuti perkembangan industri," pungkas Indra.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA18:59

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif