Menurut dia, kondisi itu tercapai karena besar animo masyarakat menjadikan deposito sebagai instrumen investasinya. Apalagi, ujarnya pula, pada tahun lalu banyak sarana investasi di antaranya saham mengalami penurunan kinerja.
"Khususnya saham yang memperdagangkan komoditas tertentu, harganya fluktuatif termasuk emas. Jadi masyarakat lebih memilih deposito karena dinilai sangat aman," ujarnya.
Secara umum, kata dia lagi, pada tahun 2014 penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) di Surabaya mencapai Rp28,6 triliun. Kondisi tersebut mengalami pertumbuhan 12,3 persen dibandingkan performa tahun 2013 sebesar Rp25,5 triliun.
"Dari pencapaian DPK tahun 2014, porsi tabungan membukukan dana Rp14,2 triliun atau tumbuh tujuh persen dibandingkan tahun 2013," katanya lagi. Sedangkan untuk giro di Surabaya mencatatkan pencapaian Rp5,3 triliun pada tahun 2014. Kinerja itu meningkat lima persen dibandingkan tahun 2013.
Kemudian, CASA di Surabaya pada tahun 2014 terealisasi 68 persen atau lebih tinggi dibandingkan pencapaian nasional hanya 65 persen. "Untuk sektor lending, tahun 2014 mengalami pertumbuhan 8,7 persen menjadi Rp32,2 triliun dibandingkan tahun 2013 senilai Rp29,9 triliun," ucap Dasuki.
Dia menyebutkan, secara year on year (YoY) kredit Consumer and Retail (termasuk kartu kredit) mengalami pertumbuhan 8,5 persen menjadi Rp5 triliun pada tahun 2014. Namun, untuk kredit Business Banking (termasuk kredit korporasi) tumbuh 8,7 persen menjadi Rp27,2 triliun.
"Untuk mempertahankan kinerja itu, kami siap menambah dua cabang kantor kas dan 228 ATM di wilayah kerja ini hingga Desember 2015," tukasnya.
Dia optimistis, melalui penambahan cabang tersebut maka total outlet menjadi 174 outlet yang terdiri dari 20 kantor cabang utama (KCU), 102 kantor layanan, 41 kantor kas, 10 BNI Layanan Gerak dan Payment Point 14 outlet, dengan total ATM mencapai 1.985 unit ATM.
"Penambahan outlet dan ATM tersebut kami harapkan meningkatkan pertumbuhan yang agresif terhadap dana murah. Khusus Kantor Wilayah Surabaya sampai dengan tahun 2014 membukukan Fee Base Income Rp524 miliar," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News