Antara/Muhamamd Ibnu Chazar
Antara/Muhamamd Ibnu Chazar

YLKI Soroti Pendataan Subsidi Tertutup Gas Melon

Ekonomi gas elpiji
Ilham wibowo • 17 Januari 2020 14:56
Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkritisi wacana distribusi gas elpiji 3 kg atau gas melon yang menjadi bersifat tertutup. Model pendataan kelompok penerima subsidi langsung, yaitu yang dianggap rumah tangga miskin perlu dipastikan tepat sasaran.
 
"YLKI khawatir masih ada salah pendataan, atau praktik patgulipat, sehingga berpotensi terjadi penyimpangan," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 17 Januari 2020.
 
Menurut Tulus, Tim Nasional Penanggulangan dan Pengentasan Kemiskinan (TNP2K) mesti memetakan pendataan yang detail masyarakat penerima subsidi. Hal ini guna menutup celah penyalahgunaan dana.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Misalnya rumah tangga tidak miskin, tapi dekat dengan Ketua RT/RW, akhirnya mendapat subsidi, dan sebaliknya, rumah tangga miskin yang tidak dekat dengan Ketua RT/RW, malah tidak mendapatkan subsidi," ujarnya.
 
Jika subsidi diberikan secara tunai, lanjut dia, pemerintah harus menjamin bahwa dana tersebut tidak digunakan untuk sesuatu yang tidak berguna, misalnya untuk membeli rokok. Pemberian subsidi secara cash bisa diintegrasikan dengan subsidi di sektor lainnya sehingga akan terdeteksi secara transparan dan akuntabel, seberapa banyak rumah tangga miskin dimaksud menerima subsidi dari negara; baik subsidi kesehatan, pendidikan, energi, dan pangan.
 
"Dan pada akhirnya patut diwaspadai dengan ketat, perihal potensi distorsi semacam ini dan diperlukan pemutakhiran data rumah tangga miskin secara presisi," ucap Tulus.
 
Selain itu pemerintah harus mengawasi distribusi gas elpiji 3 kg dan jaminan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang wajar. Tulus tak ingin sampai harga gas melambung karena ada pembiaran pelanggaran HET.
 
"Jika hal ini terjadi akan mengganggu daya beli masyarakat dan memicu inflasi secara signifikan," tuturnya.
 
Meski demikian, Tulus menambahkan, wacana menjadikan distribusi gas melon bersifat tertutup bisa dimengerti. Sebab pada awal upaya migrasi dari minyak tanah ke gas elpiji (2004), distribusi gas elpiji 3 kg juga tertutup dengan kartu kendali.
 
"Di tengah perjalanan, kartu kendali tak berfungsi, dan selanjutnya distribusinya beraifat terbuka, siapa pun bisa dan boleh beli," ungkapnya.
 
Kondisi semakin parah manakala harga gas elpiji 12 kg makin mahal dari harga keekonomian, sementara harga elpiji 3 kg tetap. Sampai saat ini, 15-20 persen pengguna gas elpiji 12 kg yang turun kelas menjadi pengguna gas elpiji 3 kg.
 
"Akibatnya subsidi gas elpiji 3 kg menjadi tidak tepat sasaran, karena pengguna 12 kg yang turun kelas adalah kelompok masyarakat mampu. Sementara elpiji 3 kg hadir untuk kelompok tidak mampu yakni orang miskin," tuturnya.
 

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif