Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat mengunjungi pabrik Indomie di Turki. (Foto: dok Kemendag)
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat mengunjungi pabrik Indomie di Turki. (Foto: dok Kemendag)

Mendag Enggar Ajak Pelaku Usaha Ekspansi ke Turki

Ekonomi kementerian perdagangan indonesia-turki
Ilham wibowo • 15 Juli 2019 10:15
Tekirdag: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengharapkan banyak pelaku usaha Indonesia yang ikut berekspansi ke Turki. Pasalnya, produk olahan dari Tanah Air cukup banyak diminati.
 
Mengakhiri lawatannya ke Turki, Enggar sempat mengunjungi pabrik mi instan Indomie di zona industri Tekirdag, Turki. Indomie dinilai telah berhasil menguasai pasar mi instan di Turki dengan pangsa pasar 90 persen.
 
"Kalau kita sudah tahu besarnya pasar di Turki, maka Pemerintah akan mengajak pelaku usaha Indonesia untuk berinvestasi menanamkan modal dan mendirikan pabrik di Turki, seperti Indofood," kata Enggar melalui keterangan resminya, Senin, 15 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah sembilan tahun beroperasi di Turki, produk mi instan Indomie saat ini telah tersebar di 81 provinsi di Turki. Produk mi instan Indomie dapat diperoleh di semua pasar ritel besar dan kecil di seluruh Turki, serta dijual secara daring. Konsumen di Turki pun dapat membeli Indomie satu kardus atau bahkan satu truk secara daring.
 
"Keuntungannya, bahan baku tetap diekspor dari Indonesia. Bahan baku Indomie sedikitnya 45 persen disuplai dari Indonesia dengan nilai sekitar USD20 juta per tahun. Angka ini diharapkan meningkat menjadi dua kali lipat jika Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA) selesai," ujar Mendag.
 
Keberadaan produk mi instan Indomie di Turki merupakan cerita keberhasilan yang patut diapresiasi dan ditiru oleh industri lainnya di Indonesia. Banyak tantangan yang dihadapi saat pertama memasuki pasar Turki. Perbedaan budaya menjadi tantangan tersendiri karena masyarakat Turki saat itu tidak mengenal dan tidak pernah memakan mi instan.
 
"Tantangan terberat yang kami hadapi adalah memperkenalkan mi instan yang belum pernah dikenal sebelumnya oleh masyarakat Turki. Sangat sulit meyakinkan konsumen Turki untuk mencoba menu baru yang berbeda dari budaya mereka. Memerlukan upaya cukup keras untuk memasukkan Indomie menjadi menu konsumsi mereka," tutur Chief Financial Officer (CFO) Adkoturk Yusuf Hermawan Achmad.
 
Menurut Yusuf, hambatan lainnya yang dihadapi Indomie dan produk makanan asing di Turki adalah kuatnya rasa nasionalis penduduk Turki, yang lebih cinta dengan produk dalam negerinya dibandingkan dengan produk impor. Sekitar 80 persen restoran di Turki adalah restoran lokal yang menjual makanan asli Turki. Alasan inilah yang kemudian memutuskan Indomie untuk berinvestasi dan mendirikan pabriknya di Turki.
 
Indomie mengawali perjalanannya di Turki sejak awal 2010 dengan mendirikan perusahaan Adkoturk Gida Sanayi, kerja sama antara Indonesia dan Turki. Awalnya Adkoturk menjadi distributor produk Indofood di kota kecil Adana yang mengimpor dan menjual produk Indomie.
 
Tidak hanya sebagai distributor, Adkoturk aktif melakukan riset pasar dengan mencari tahu selera yang digemari konsumen dan bagaimana pemasarannya. Dari hasil riset, diketahui bahwa penjualan melalui jaringan ritel lebih dominan dari pada melalui pasar tradisional. Sehingga pada pertengahan 2011 Adkoturk membuka kantor cabang di Istanbul agar lebih dekat dengan kantor pusat jaringan ritel di Turki.
 
General Manager (GM) Indofood Turki Adkoturk Wassim Brinjiki menambahkan, promosi dan pemasaran kemudian gencar dilakukan untuk membangunkesadaran konsumen, hingga akhirnya kantor pusat dipindahkan ke Istanbul. Strategi pemasaran yang dilakukan Indomie di Turki yaitu dengan langsung fokus kepada konsumen.
 
Promosi juga dilakukan dengan berbagai cara, baik melalui iklan, pembelajaran, kerja sama dengan para koki selebritas, penerbangan internasional, melibatkan para milenial, dan mengundang murid-murid sekolah mengunjungi pabrik Indomie. Selain itu, dilakukan pula pengenalan melalui media sosialyang dinilai paling efektif saat ini untuk menarik minat konsumen, khususnya kalangan milenial.
 
"Kerja keras dan strategi pemasaran yang tepat telah meningkatkan omzet penjualan Indomie di Turki. Penjualan Indomie di 2019 naik sepuluh kali lipat dibandingkan lima tahun sebelumnya. Indomie sekarang dapat ditemukan di 340 jejaring toko ritel yang ada di seluruh Turki," ungkap Wassim.
 
Kapasitas produksi Indomie saat ini sebanyak 550 ribu karton per bulan dengan penjualan mencapai 450 ribu karton Indomie bungkus dan 50 ribu karton Indomie kemasan cup per bulan. Dengan penambahan mesin baru, kapasitas Produksi akan meningkat menjadi satu juta karton perbulan.
 
Bahan baku yang berasal dari Indonesia yakni bumbu, pembungkus, dan minyak kelapa sawit. Kebutuhan minyak kelapa sawit untuk Indomie saat ini sebanyak 250-500 ton per bulan. Dengan rencana penambahan mesin, kebutuhan minyak kelapa sawit akan mencapai 1.000 ton per bulan, sehingga permintaan minyak kelapa sawit akan meningkat.
 
Namun, tarif minyak kelapa sawit dari Indonesia lebih tinggi dari Malaysia yang telah memiliki perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Turki, sehingga minyak kelapa sawit Indonesia belum dapat bersaing di Turki.
 
Sebagai upaya meningkatkan perdagangan dan daya saing produk Indonesia, sehari sebelumnya Mendag Enggar telah bertemu dengan Menteri Perdagangan Turki Ruhsan Pekca. Keduanya sepakat akan menyelesaikan perundingan IT-CEPA.
 
"Penyelesaian perundingan IT-CEPA penting artinya bagi peningkatan daya saing produk Indonesia di Turki. Setelah IT-CEPA selesai tahun ini, saya percaya perdagangan kedua negara akan segera meningkat signifikan dalam waktu dekat," kata Enggar.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif