Ilustrasi (Foto: Dok Media Indonesia)
Ilustrasi (Foto: Dok Media Indonesia)

Analis: Rumor Buat Harga Saham Bank Permata Melonjak

Ekonomi bank permata
Angga Bratadharma • 06 November 2019 09:45
Jakarta: Rumor pelepasan saham Bank Permata masih terus bergulir di lantai pasar modal dan dunia investasi perbankan. Sejak 2017, kedua shareholder Bank Permata yaitu Astra dan Standard Chartered sudah mengumumkan secara tidak langsung bahwa mereka akan melepas sahamnya dari emiten yang berkode BNLI ini.
 
Namun, sejak 2017 silam itu pula, belum ada kejelasan berapa valuasi dan siapa yang akan membeli. Banyaknya rumor yang beredar membuat saham BNLI per 6 November 2019 diangka Rp1.385 per lembar saham. Padahal setahun lalu pada tanggal yang sama, nilai saham BNLI hanya menyentuh angka Rp464 per lembar saham.
 
Artinya dalam waktu satu tahun ini, rumor yang beredar mengenai rencana penjualan saham BNLI turut dorong naik nilai lembar saham dari BNLI. Analis CSA Research Institute Reza Priyambada menyatakan rumor yang beredar di lantai bursa membuat harga dari BNLI terus naik. Oleh karena itu, kedua pemegang saham harus memberikan kejelasan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Harga pasar itu kan harga yang bisa muncul karena rumor. Jadi bisa saja ada pihak-pihak yang memanfaatkan isu BNLI di pasar agar terus naik. Maka dari itu Astra dan Standard Chartered harus memberikan kejelasan," ucap Reza, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Rabu, 6 November 2019.
 
Menurutnya potensi bank tersebut juga harus dilihat, jangan sampai harga yang tinggi ternyata tidak sesuai dengan valuasi dan potensi masa depan yang sebenarnya. Dalam hal ini, ia menilai, para investor harus melihat aset BNLI, kredit macet, piutang yang bisa ditagih, dan lain sebagainya.
 
"Lalu paling penting, adalah bagaimana potensi akan BNLI di masa depan. BTPN dibeli karena pengelolaan dana pensiun yang sangat potensial. Lalu Danamon dibeli karena potensi pengelolaan UKM dan UMKM. Nah Permata harus dilihat punya apa. Jangan sampai harganya tinggi tetapi potensinya ternyata biasa saja," kata Reza.
 
Reza Priyambada berpendapat nilai valuasi yang kini beredar di masyarakat masih berbentuk rumor dan isu yang bias. Maka menurut Reza nilai valuasi BNLI harus dinilai oleh perusahaan penilai perbankan independen untuk melihat harga wajarnya seperti apa.
 
"Namanya penjual pasti ingin untung, wajar kalau mereka (Astra dan Standard Chartered) optimistis terjual 1,7-2 kali lipat. Oleh karena itu nilai kewajaran valuasi dari BNLI harus dihitung oleh perusahaan penilai perbankan. Perusahaan penilai perbankan ini yang akan menghitung seluruh kewajaran dan variabel dari nilai valuasi BNLI," tuturnya.
 
Lebih lanjut, Reza menilai, pihak Astra dan Standard Chartered harus jelas dalam memberikan keterangan kepada publik dan investor agar isu pelepasan saham ini tidak terus menerus menjadi rumor di pasar modal.
 
"Astra dan Standard Chartered harus terbuka kepada publik mau jual berapa, prosesnya bagaimana, alasan harga juga harus jelas, yang tertarik siapa saja. Sekarang kondisinya tidak jelas dan bentuknya malah menjadi rumor di bursa dan pasar modal," pungkasnya.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif