Sejumlah nasabah Jiwasraya menyambangi OJK - - Foto: Medcom.id/ Eko Nordiansyah
Sejumlah nasabah Jiwasraya menyambangi OJK - - Foto: Medcom.id/ Eko Nordiansyah

Nasabah Jiwasraya Kesal Dibatasi Bertemu OJK

Ekonomi ojk Jiwasraya
Eko Nordiansyah • 06 Februari 2020 14:17
Jakarta: Para nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) mendatangi gedung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setelah menyambangi Kementerian Keuangan. Mereka sempat adu mulut dengan petugas keamanan lantaran merasa kesal dibatasi bertemu dengan perwakilan OJK.
 
"Kita ada identitasnya yang mengundang (dari OJK). Tadi pas sampai di sini enggak boleh masuk," kata salah seorang nasabah Mohammad Feroz di Gedung Wisma Mulia II, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis, 6 Februari 2020.
 
Menurutnya OJK hanya mau menemui perwakilan dari nasabah saja. Padahal ada puluhan nasabah Jiwasraya yang ingin menanyakan nasib uang mereka setelah perusahaan asuransi BUMN tersebut mengalami gagal bayar klaim dana nasabah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Belum siap katanya di atas yang mau menemui, terus ditawarkan lima orang. Enggak mungkin, Pak, gedung segini besar, begitu banyak ruangan. Enggak mungkin, Pak," ungkap Feroz.
 
Para nasabah pun menolak pertemuan jika hanya diwakili oleh sebagian dari mereka. Pasalnya mereka memiliki keluhan masing-masing meski keseluruhan dari mereka hanya ingin uang yang sudah diinvestasikan dan bunga yang dijanjikan kembali.
 
"Tidak bisa ini sesuatu yang tidak bisa diwakili. Semua masing-masing punya hak tagih sendiri-sendiri. Seolah-olah itu bisa menyelesaikan untuk semua ya enggak mungkin lima orang. Enggak ada satu orang pun mewakili yang lain," pungkasnya.
 
Saat ini sebagian dari perwakilan nasabah tengah melakukan pertemuan tertutup dengan OJK. Sayang para pewarta dilarang untuk ikut meliput pertemuan tersebut.
 
Jiwasraya diketahui melakukan rekayasa laporan keuangan sejak 2006 demi memperoleh izin penjualan produk JS Saving Plan. Asuransi pelat merah itu banyak menempatkan 95 persen dana investasi di saham-saham gorengan.
 
Berdasarkan dugaan awal, total dana yang diinvestasikan di saham sampah tersebut mencapai Rp5,7 triliun atau 22,4 persen dari total investasi Jiwasraya.
 
Tidak hanya itu, 98 persen dari dana investasi di reksa dana atau senilai Rp14,9 triliun dititipkan pengelolaannya kepada perusahaan-perusahaan manajer investasi dengan kinerja buruk.
 
Hingga Agustus 2019, Jiwasraya menanggung potensi kerugian negara sebesar Rp13,7 triliun. Jiwasraya membutuhkan dana Rp32,89 triliun agar bisa mencapai rasio Risk Based Capital (RBC) minimal 120 persen.
 
Dalam pengusutan kasus Jiwasraya, Kejagung akhirnya menetapkan lima orang tersangka kasus dugaan korupsi di PT Jiwasraya.
 
Kelima orang tersebut yakni mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim; mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Jiwasraya, Syahmirwan; mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya; Hary Prasetyo, Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), Heru Hidayat; dan Komisaris PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro.
 
Mereka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b UU Nomor 31 Tahun 1999 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Kelimanya juga terbukti bersalah melanggar Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif