NEWSTICKER
Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

26% Masyarakat Belum Tersentuh Inklusi Keuangan

Ekonomi inklusi keuangan
Nia Deviyana • 24 Desember 2019 16:22
Jakarta: Saat berbicara mengenai inklusi keuangan, pemerintah seringkali hanya fokus pada masyarakat unbanked atau golongan masyarakat yang tidak memiliki akun bank. Padahal, selain masyarakat unbanked, ada masyarakat underbanked yang potensi pemberdayaannya masih tinggi.
 
Masyarakat underbanked adalah masyarakat yang memiliki rekening bank, tetapi masih menghadapi keterbatasan akses ke layanan keuangan seperti kartu kredit dan Kredit Tanpa Agunan (KTA) karena berbagai alasan, salah satunya riwayat kredit yang terbatas.
 
"Saat ini, sekitar 26 persen atau 47 juta jiwa dari total populasi penduduk dewasa di Indonesia adalah masyarakat underbanked," ujar General Manager Kredivo Lily Suriani melalui keterangan resminya, Selasa, 24 Desember 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lily mengatakan, jumlah populasi underbanked di Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Bagi pelaku perbankan konvensional pun, tidak mudah untuk menggarap potensi tersebut mengingat regulasi perbankan yang ketat. Sehingga dalam kondisi tersebut, menurut Lily, kemajuan industri keuangan digital (fintech) membawa angin segar bagi golongan underbanked karena mampu memperluas akses ke layanan keuangan yang dapat mendukung peningkatan taraf hidup.
 
Di sisi lain, guna memaksimalkan dampak industri fintech sebagai solusi bagi masyarakat underbanked Indonesia, perluasan akses tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan literasi masyarakat, terutama dalam memilih layanan yang kredibel serta cara bijak mengelola pinjamannya.
 
"Hal ini penting mengingat masyarakat underbanked tergolong awam untuk memahami prosedur dan konsekuensi peminjaman dana," kata Lily.
 
Peranan edukasi menjadi semakin urgen sifatnya mengingat menjamurnya pinjaman online ilegal yang membahayakan masyarakat. Individu-individu yang tidak mendapatkan edukasi yang baik bisa saja salah paham dan memukul rata bahwa seluruh pemain industri sama saja seperti fintech ilegal. Masyarakat harus memahami perbedaan fintech legal dan ilegal yang jelas berbeda dari aspek legalitas operasi, standarisasi keamanan serta kualitas layanan yang ditawarkan.
 
Lily mengatakan pihaknya sadar untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk regulator dan juga asosiasi untuk memaksimalkan dampak positif fintech bagi masyarakat underbanked.
 
"Bulan lalu, kami turut berpartisipasi di Fintech Exhibition 2019 yang diusung AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia) di Surabaya. Tujuannya, untuk memberikan pemahaman yang benar terkait berbagai produk dan layanan fintech serta perkembangan industri yang yang pesat selama tiga tahun terakhir," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif