Illustrasi. Dok : MI/Mohhamad Irfan.
Illustrasi. Dok : MI/Mohhamad Irfan.

Penyebab Indonesia Masih Kalah dengan Vietnam

Ekonomi daya saing indonesia
Nia Deviyana • 25 Juni 2019 05:59
Jakarta: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dari negara lain yang akan merelokasi pabriknya dari Tiongkok. Sayangnya seringkali Indonesia kalah dengan Vietnam.
 
Kepala Kajian Makro LPEM FEB UI Febrio Kacaribu menilai, dari segi geografis, pabrik-pabrik di Guangzhou, Tiongkok memang lebih dekat dengan Vietnam. Namun, di sisi lain Vietnam telah banyak melakukan inovasi terkait iklim kemudahan berusaha, di mana Indonesia dalam hal ini masih banyak kekurangan.
 
Hal itu dibuktikan dari peringkat Ease of Doing Business (EoDB) atau kemudahan berusaha Indonesia dan Vietnam sama-sama di peringkat 120an pada 2014. Namun pada 2018, Indonesia menempati peringkat 73, sementara Vietnam 69.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi di samping faktor kedekatan yang sudah bikin untung besar, mereka juga memperbaiki iklim berusaha. Mirip dengan kita, tapi sedikit lebih cepat," ujarnya usai mengisi diskusi Forum Kebangsaan UI di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Senin, 24 Juni 2019.
 
Febrio mengingatkan perihal kemudahan berusaha harus menjadi prioritas. Di samping ada banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi seperti perizinan yang mana Indonesia masih berada di peringkat 132 dari 190 negara. Begitu juga dengan kemudahan membayar pajak dan enforcing contracts.
 
"Karena bukan hanya asing atau domestik. Kalau EoDB jelek, perizinan susah, bayar pajak susah, mengekspor susah, jangankan asing, pabrik sepatu di Bandung pun akan pindah ke Vietnam," tukasnya.
 
Pengamat Ekonomi Lana Soelistyaningsih punya pendapat serupa mengapa Indonesia masih kalah saing dengan Vietnam. Menurutnya, barang-barang yang diproduksi di Indonesia cenderung menjadi mahal jika diekspor. Hal ini karena masalah teknis yang membuat biaya produksi tinggi.
 
"Misalnya bicara bongkar muat barang, kita masih lama. Di negara lain untuk bongkar muat barang setengah jam selesai, sedangkan kita bisa setengah hari. Semakin lama ditahan di pelabuhan maka ongkosnya semakin mahal," jelas Lana saat dihubungi Medcom.id, Senin, 3 Juni 2019.
 
"Sebagai contoh lagi sepatu Adidas yang dikirim ke AS, harganya lebih murah kalau beli dari Vietnam daripada Indonesia. Itu karena untuk bahan baku kita masih impor, sehingga berdampak pada harga," lanjut dia.
 
Kondisi di mana investor lebih memilih menanamkan modalnya di Vietnam dibandingkan Indonesia juga pernah disinggung Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dirinya heran mengapa banyak industri mebel dari Tiongkok yang masuk ke Vietnam. Padahal, Indonesia merupakan produsen kayu serta rotan.
 
"Padahal kayu ada di kita, raw material ada di kita, kayu ada di kita, bambu ada di kita, apa yang salah dari Indonesia? Apa yang keliru dari Indonesia?" ujar Jokowi, saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang Selatan, Maret lalu.
 
Jokowi berpendapat dalam kondisi perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, Indonesia bisa menarik masuk investor. Namun, lagi-lagi Indonesia hanya bisa menguasai tiga persen pasar AS, sementara Vietnam mencapai sekitar 16 persen.
 
"Artinya apa? Kita kalah rebutan, kalah merebut investasi, kalah merebut pasar. Saya rasa ini tanggung jawab kita semuanya," kata dia.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif