Negeri Singa tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada 2019 menjadi antara nol persen dan satu persen. Ekonomi Singapura sempat diproyeksikan akan tumbuh antara 1,5 persen dan 2,5 persen.
Bagaimana dengan Indonesia?
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan Indonesia kemungkinan terkena dampak, meskipun sifatnya terbatas. Berbeda dengan Singapura, Indonesia tidak bergantung pada ekspor-impor, sementara Singapura sangat tergantung dengan ekspor.
"Dengan demikian potensi resesi memang ada. Resesi di sini adalah pertumbuhan PDB yang turun selama dua kuartal berturut-turut, tetapi tidak sampai mengarah seperti krisis pada 1998. Masih ada waktu untuk mencegah pelemahan ekonomi berlanjut," jelas Eko saat dihubungi Medcom.id, Rabu, 11 September 2019.
Adapun cara yang bisa dilakukan Indonesia, lanjut Eko, yakni mengoptimalkan peran ekonomi domestik, terutama dukungan bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam hal pengembangan akses online maupun offline.
Begitu juga pada industri manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan nilai ekspor. "Bisa diberikan insentif baik fiskal maupun nonfiskal," kata dia.
Tak kalah penting, mendorong industri pertanian. Menurut Eko, penting mendorong peningkatan produksi untuk mensubtitusi impor.
Terakhir, mengatasi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
"Ini penting untuk meningkatkan ketahanan nilai tukar dan gejolak global," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News