Illustrasi. MI/Panca.
Illustrasi. MI/Panca.

Penggabungan Golongan Rokok Bisa 'Kebiri' Produksi Tembakau

Ekonomi tembakau
Husen Miftahudin • 19 Maret 2019 21:11
Jakarta: Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTN) menolak wacana pengabungan golongan rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM). Penggabungan dua golongan tersebut dikhawatirkan mengebiri produksi hasil pertanian tembakau nasional.
 
"Kami meyakini, usulan itu akan melibas produksi hasil pertanian tembakau nasional," kata Ketua Umum DPN APTN Agus Parmuji dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa, 19 Maret 2019.
 
Selain itu, sambung Agus, penggabungan SKM dan SKM akan memicu persaingan tak sehat pada ekosistem Industri Hasil Tembakau (IHT) di Indonesia. Pasalnya, generik biologis kedua golongan itu berbeda.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebab, produksi SKM yang merupakan penyerap bahan baku tembakau nasional tidak akan mampu bersaing di pasaran dengan SPM yang sudah memiliki brand nasional," tegasnya.
 
Sementara, anggota DPR RI dari Fraksi Golkar Firman Soebagyo menyebutkan bahwa kebijakan penyederhanaan (simplifikasi) tarif cukai rokok dan rencana penggabungan volume poduksi SKM dan SPM akan ditunda. Dia menilai kebijakan simplifikasi tarif cukai rokok berpotensi merugikan petani tembakau dan perusahaan rokok kecil.
 
"Karena ada jutaan buruh linting kretek yang juga sangat bergantung hidupnya dari industri nasional hasil tembakau," tegas dia.
 
Sebelumnya, rencana penggabungan volume produksi SKM dan SPM diusulkan untuk melindungi pabrikan kecil dari gempuran pabrikan besar asing. Penggabungan itu disebut bertujuan untuk memperbaiki iklim persaingan di IHT yang belum kondusif.
 
Menurut Anggota Komisi Keuangan dari Fraksi PDI Perjuangan, Indah Kurnia, jika penggabungan ini tidak terealisasi, pabrikan besar asing akan terus meikmati tarif cukai murah. Kondisi ini menyebabkan pabrikan kecil terkena imbasnya.
 
"Penggabungan batasan volume SKM dan SPM bertujuan untuk memastikan kompetisi yang adil antara perusahaan besar asing dan kecil. Saat ini beberapa perusahaan besar asing masih membayar cukai Golongan 2, walaupun secara total produksi SKM dan SPM mereka sudah di atas tiga miliar batang," jelas dia.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif