NEWSTICKER
Freeport Indonesia. Foto : AFP.
Freeport Indonesia. Foto : AFP.

Peralihan Tambang Freeport Buat Ekonomi Papua Minus

Ekonomi papua freeport
Suci Sedya Utami • 05 Februari 2020 17:15
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi di Papua terus tersungkur dalam satu tahun terakhir. Di 2019, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di Bumi Cenderawasih itu tercatat -15,72 persen.
 
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan Papua dan Maluku hanya memberikan kontribusi 2,24 persen terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2019 yang sebesar 5,02 persen. Papua dan Maluku ekonominya tumbuh minus 7,4 persen.
 
"Pertumbuhan ekonomi Papua mengalami kontraksi 15,72 persen," kata Suhariyanto di kantor BPS, Jakarta Pusat, Rabu, 5 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya mengatakan sejak akhir 2018, ekonomi Papua selalu tumbuh negatif. Di kuartal IV-2018, pertumbuhannya minus 17,95 persen setelah di tiga kuartal sebelumnya tumbuh masing-masing sebesar 6,20 persen di kuartal tiga, 23,89 persen di kuartal II, dan 26 persen di kuartal I.
Pertumbuhan negatif berlanjut di kuartal I tahun 2019 yang sebesar minus 18,66 persen, kuartal II minus 23,91 persen, kuartal II minus 15,05 persen dan kuartal IV minus 3,73 persen.
 
Suhariyanto mengatakan kontraksi tersebut disebabkan adanya peralihan kegiatan tambang Freeport dari tambang terbuka menjadi tambang bawah tanah (underground mining). Peralihan tersebut menyebabkan produksi tembaga dan emas Freeport turun.
 
"Penyebab utamanya adalah Freeport. Penurunan produksi karena ada sistem tambang yang ada di sana itu yang menyebabkan papua mengalami kontraksi yang cukup dalam -15 persen pada 2019," jelas Suhariyanto.
 
Dari catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan yang diajukan terjadi penurunan target produksi Freeport dari 2018 sejalan dengan adanya transisi tambang Grasberg ke tambang bawah tanah.
 
Direktur Mineral Yunus Saefulhak mengatakan di 2018 realisasi produksi bijih tembaga mentah atau ore mencapai 270 ribu ton per hari dengan jumlah produksi konsentratnya mencapai 2,1 juta ton dalam setahun. Dari produksi konsentrat tersebut sebanyak 1,2 juta ton diperuntukan untuk ekspor sedangkan 800 ribu tonnya disalurkan ke PT Smelting Gresik untuk dilakukan pemurnian dan pengolahan.
 
Yunus mengatakan produksi konsentrat Freeport pada 2019 diperkirakan hanya 1,2 juta ton. Dari jumlah tersebut 200 ribu ton akan diekspor dan satu juta ton akan diolah di PT Smelting Gresik.
 
Wilayah Lain
 
Sementara itu, daerah yang memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi tertinggi masih didominasi oleh Jawa dan Sumatera. Provinsi Jawa menyumbang 59 persen terhadap PDB dengan pertumbuhannya sebesar 5,52 persen.
 
Disusul oleh Sumatera yang berkontribusi 21,32 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan sebesar 4,57 persen. Adapun Kalimantan dan Sulawesi kontribusi masing-masing 8,05 persen dengan pertumbuhan 4,99 persen dan 6,33 persen dengan pertumbuhan 6,65 persen.
 
"Sepanjang 2019 provinsi Jawa dan Sumatera memberikan kontribusi terbesar kepada perekonomian Indonesia. Pulau Jawa terbesar DKI Jakarta sumbangannya 9,94 persen, Jatim, dan Jabar. Itu tiga kota tertinggi di Jawa," jelas dia.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif