Ada Mafia di Balik Kenaikan Harga Telur
Ilustrasi. (FOTO: MI/Amir)
Jakarta: Melambungnya harga telur ayam di pasaran dicurigai sebagai ulah mafia pangan. Mereka menahan harga tetap tinggi di pasaran sehingga mengakibatkan efek domino di hampir semua wilayah Indonesia.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional Yudianto Yosgiarso mengatakan biasanya para trader menekan harga ke peternak lalu menjual dengan harga setinggi-tingginya ke konsumen.

"Mafia-mafia telur masih gentayangan dan banyak. Di daerah Blitar kasihan (peternak) ditekan pedagang. Padahal dari (harga) telur goyang sedikit dampaknya luar biasa," ungkap Yudianto kepada Medcom.id, Kamis, 19 Juli 2018.

Kepala Satgas Pangan Irjen Pol Setyo Wasisto menilai ada kejanggalan di balik kenaikan harga telur ayam. Padahal, kebutuhan masyarakat sudah menurun lantaran telah melewati fase tertinggi pada saat Lebaran.

"Jadi memang sekarang sedang diteliti karena dari para peternak sendiri mengatakan stoknya cukup dan harga di kandang tidak setinggi itu," ucap Setyo pada Selasa, 17 Juli 2018.

Sebab itu, Satgas akan melakukan penyelidikan mulai dari hulu, khususnya di sentra produksi telur seperti Bandung, Tasikmalaya, dan Ciamis. Hal ini guna mengungkap permainan harga di level yang mengakibatkan harga telur melambung tinggi. 

"Itu yang akan kami selidiki, apakah pengepul, pangkalan atau broker yang ambil untung banyak," ucap Setyo.

Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Perdagangan meminta agar pelaku usaha tidak mengambil keuntungan melebihi harga wajar. Mereka diberi tenggat waktu satu pekan untuk menurunkan harga telur ayam secara bertahap.

Jika harga telur tidak kunjung menurun, Kemendag akan melakukan intervensi pasar dengan mengeluarkan stok telur ayam milik para integrator atau perusahaan besar pengepul komoditas pangan tersebut.

"Jangka menengah kami lakukan audit. Nanti kami minta Kementan datang untuk ambil langkah yang intinya bicara soal suplai," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Adapun harga rata-rata telur ayam ras secara nasional pada 2018 mencapai level tertinggi Rp35.000 per kilogram. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), harga tertinggi ada di wilayah Maluku Utara Rp36.550 per kilogram dan harga terendah di Wilayah Sumatera Utara Rp21.300 per kilogram.

Harga tersebut terhitung jauh dari harga yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27 Tahun 2017, di mana harga di tingkat konsumen Rp22 ribu per kilogram. Artinya harga di tingkat peternak telah melampaui Harga Pokok Produksi (HPP) di sekitar Rp17.500-Rp18.000 per kilogram.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id