Pelopor Teh Celup itu Harus Tumbang
Ilustrasi teh celup. (FOTO: Medcom.id/Rizal)
Jakarta: Pailitnya Sariwangi menjadi salah satu berita yang cukup mengejutkan. Padahal, Sariwangi telah melekat di hati dan pikiran masyarakat sejak bertahun-tahun.

Pelopor teh celup pertama di Indonesia tersebut terlilit utang dengan PT Bank ICBC Indonesia. Kuasa Hukum ICBC Swandy Halim dari Kantor Hukum Swandy Halim & Partners mencatat utang Sariwangi kepada ICBC per tanggal putusan pengesahan perdamaian (9 Oktober 2015) sebesar USD20.505.166 (USD20,5 juta).

Lalu, bagaimana rekam jejak Sariwangi selama berbisnis di Indonesia? Mengutip laman resmi Sariwangi, Kamis, 18 Oktober 2018, brand ini telah beredar sejak 1973.

"Merupakan merek lokal Indonesia yang diperkenalkan pada 1973 dalam format teh celup -suatu cara modern untuk minum teh yang berbeda dengan teh tubruk," demikian tertuang dalam laman tersebut, seperti dikutip Medcom.id, Kamis, 18 Oktober 2018.

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melalui Sekretaris Perusahaan Unilever Sancoyo Antarikso mengatakan perseroan pernah menjadi rekanan usaha untuk memproduksi merek teh celup SariWangi.

"Namun saat ini Unilever sudah tidak memiliki kerja sama apapun dengan Sariwangi Agricultural Estate Agency," tegas Sekretaris Perusahaan Unilever Sancoyo Antarikso dalam keterangan tertulisnya.

Akan tetapi, Sancoyo memastikan perseroan tetap akan memproduksi teh Sariwangi meskipun perusahaan pendiri PT Sariwangi Agricultural Estate Agency dinyatakan pailit.

PT Sariwangi Agricultural Estate Agency sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di sektor komoditas teh dan berlokasi di Jalan Mercedes Benz, Cicadas, Gunung Putri, Bogor.




Mengutip berbagai sumber, perusahaan ini didirikan oleh Johan Alexander Supit. Sariwangi pada 1972 mengenalkan kantong teh pertama yang dikenal dengan "celup" oleh para pendirinya.

Sejalan dengan berkembangnya bisnis Sariwangi, pada 1982 divisi manufaktur mulai mengekspor produk dikemas di seluruh dunia mulai dari Amerika Serikat, Australia, Inggris, Timur Tengah, Rusia, dan Malaysia.

Pada 1989, merek teh SariWangi pun diakuisisi oleh Unilever. Kemudian tiga tahun berikutnya Sariwangi membangun fasilitas manufaktur kedua di Bogor demi memenuhi tuntutan produk ekspor dikemas selesai dan fasilitas gudang blending.

Setelah itu pada 2009, SariWangi memperluas gudang dan fasilitas manufaktur dengan mengakuisisi 3,8 hektare (ha) lahan yang mampu menampung hingga 60 ribu ton teh dicampur per tahun dan menggandakan fasilitas manufaktur untuk delapan miliar kantong teh per tahun.

Selanjutnya pada 2011, Sariwangi melakukan akuisisi dengan perusshaan di Belanda serta bermitra dengan CSLA untuk mendapatkan modal demi anak perusahaan. Pada 2013, Sariwangi masih melakukan pengembangan bisnis perkebunan gula baru seluas 2.400 ha hingga akhirnya dinyatakan pailit pada 2018.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id