“Nah, saksikan nada-nada angklung caruk di Festival Angklung Caruk Pelajar 2017,” promo Menteri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta dikutip dari keteranganya, Selasa 14 Februari 2017.
Arief Yahya paham akan tradisi Banyuwangi, termasuk alat-alat music tradisinya. Dia memang lahir dan dibesarkan di Kota Gandrung yang lagi happening dalam membangun reputasi daerahnya dengan sentuhan pariwisata itu.
Angklung adalah seni khas Banyuwangi. Para pemainnya terdiri dari 12 sampai 14 orang. Instrumen musik terbuat dari bamboo dan memiliki empat jenis pertunjukan yaitu, angklung caruk, angklung tetak, angklung paglak, dan angklung Blambangan. Ritme musiknya mirip gamelan Bali, cepat, patah-patah, dominasi gendang dan ditambah dengan gending-gending ala Banyuwangi, Jawa Timuran.
“Ini khas Banyuwangi. Yang penasaran, silakan datang ke Banyuwangi. Akan ada banyak atraksi keren yang bisa dinikmati sepanjang 24-25 Februari 2017 itu,” tambah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, yang didampingi Kadispar Banyuwangi, MY Bramuda.
Soal kuantitas dan kualitas festival, Banyuwangi memang rajanya. Banyuwangi sudah disematkan gelar The Best Festival City di Indonesia oleh Menpar Arief Yahya. Dan tahun ini, Kabupaten di ujung paling timur pulau Jawa ini sudah menyiapkan 72 festival keren.
“Salah satunya Festival Angklung Caruk Pelajar 2017. Di festival ini, kami mengenalkan angklung pada generasi muda. Kami ingin anak muda mencintai kesenian tradisionalnya,” sambung Bupati Azwar Anas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News