Jalan Revolusi Industri 4.0 Indonesia akan Lebih Mudah
Ilustrasi industri manufaktur. (Foto: Antara/Asim).
Yogyakarta: Jalan revolusi industri 4.0 Indonesia akan lebih mudah ketimbang negara tetangga yang sudah modern. Hal ini karena Indonesia masih jauh di belakang atau tertinggal dari negara lain dalam persoalan kemajuan teknologi. Ini membuat Indonesia dapat meniru peta jalan yang sudah dilakukan oleh negara maju.

"Ini ada peluang karena kita masih jauh di belakang. Kita jauh dari Malaysia dan Tiongkok dalam persoalan teknologi. Orang yang di belakang itu lebih mudah daripada yang di depan," jelas Ekonom Raden Pardede, di Yogyakarta, Selasa, 7 Mei 2018.

Dia mengatakan kondisi ini berbeda dengan negara maju seperti Amerika Serikat (AS) yang lebih mapan. Negara seperti AS akan sibuk memikirkan inovasi dan riset untuk mempertahankan keunggulannya. "Negara maju akan melakukan inovasi sementara kita tidak. Kita enggak butuh modal karena melakukan imitasi dan itu peluang," jelas Raden.

Selain itu, lanjut dia, ada dua jalan untuk mencapai revolusi industri. Jalur kiri dan kanan. Jalur kiri adalah jalan ketika industri melakukan riset untuk mengembangkan peta jalan. Sementara jalur kanan adalah dengan mencari kebutuhan konsumen terhadap produk revolusi industri yang ditawarkan.

"Peluang bagi Indonesia terbuka sekali. Revolusi 4.0 itu sangat terbuka namun jalur mana yang kita ambil. Apa kita ambil jalur ke kiri dengan riset atau lebih ke konsumer oriented," jelas dia.

Dia menegaskan bahwa pemerintah harus berusaha seefisien mungkin untuk mengurangi broker sehingga value added akan diperoleh. Sebagai contoh ketika penjual batik menjual barang ke Norwegia maka mereka tak mendapatkan mata uang Norwegia dalam pembayarannya tetapi langsung memperoleh dengan mata uang rupiah.

 



(AHL)