4 Tahun Jokowi, Pertumbuhan Ekspor Meningkat
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Foto: Medcom.id/Annisa Ayu)
Jakarta: Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatakan pertumbuhan ekspor selama empat tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.

Data ekspor Kemendag mencatat kenaikan ekspor sebesar 16,2 persen dari USD145,1 miliar menjadi USD168,7 miliar. Untuk kinerja ekspor Januari-September 2017 sebesar USD123,3 miliar atau meningkat 9,41 persen menjadi USD134,9 miliar pada periode Januri-September 2018.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menuturkan peningkatan ekspor didorong oleh berbagai perjanjian perdagangan dengan sejumlah negara termasuk melakukan ekspansi ke pasar-pasar baru.

"Dari tahun ke tahun kinerja ekspor terjadi kenaikan dan di atas apa yang telah ditetapkan. Kita bisa meningkatkan ekspor dengan membuka pasar baru dan kemudian dengan pasar lama harus membuka diri dengan perjanjian perdagangan," kata Enggar dalam Forum Merdeka Barat memepringati 4 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Ruang Serbaguna Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 23 Oktober 2018.

Enggar bilang baru tiga perjanjian perdagangan yang berhasil dijajaki oleh pemerintah, yakni Palestina, Chile, dan Australia. Sementara delapan negara masih dalam proses penjajakan, tiga negara memasuki proses kajian dan dua negara lainnya dalam tahap pembahasan.

Namun hasil dari perjanjian dagang ini baru akan terasa pada kuartal II dan kuartal III-2018. "Tapi kalau tidak kita kejar secepat mungkin maka kita akan semakin tertinggal dengan negara lain. Yang diharapkan segera selesai itu RCEP, karena lebih dari 50 persen negara dunia ada disitu. Kemudian EFTA," tuturnya.

Khusus untuk Palestina, pemerintah pertama kalinya memberikan pembebasan tarif bea masuk untuk sejumlah produk. Pada tahap pertama diberikan kebebasan ekspor pada produk kurma dan minyak zaitun.

Pembebasan tarif ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo dalam mendukung kedaulatan Palestina sebagai negara yang merdeka. "Dalam perjalanan empat tahun pemerintahan, baru tandatangani perjanjian yaitu Palestina bukan hasil studi tapi karena Presiden memerintahkan untuk memberikan dukungan sepenuhnya ke Palestina. Kalau ekspor ke Indonesia dikenakan nol persen," pungkas Mendag.

Sementara itu, hasil misi dagang Indonesia pada Januari-Oktober 2018 mencapai USD10,02 miliar. Angka tersebut meliputi misi dagang ke Pakistan sebesar USD115,02 juta dan USD6,4 miliar, India USD2,16 miliar, Selandia Baru USD9,74 juta, Taiwan USD30,7 juta, Bangladesh USD279,19 juta, Tunisia USD2,7 juta, Swiss USD273 ribu, Spanyol USD1,35 juta, Amerika Serikat USD1,01 miliar dan Maroko USD13,25 juta.

Untuk penguatan strategi pemasaran produk Indonesia, pemerintah juga mengikuti pameran perdagangan di luar negeri, di antaranya Sirha Budapest dengan nilai transaksi mencapai USD10,03 juta, Indonesia festival dengan transaksi sebesar USD1,11 juta, Seoul Food memperoleh transaksi USD2,06 juta serta China ASEAN Expo sebesar USD6,21 juta.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id