Menteri Keuangan Sri Mulyani. MI/Susanto.
Menteri Keuangan Sri Mulyani. MI/Susanto.

Langkah Sri Mulyani Mengatasi Defisit Transaksi Berjalan

Ekonomi defisit transaksi berjalan
Eko Nordiansyah • 27 Agustus 2019 16:13
Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan langkah pemerintah untuk memperbaiki kinerja neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Menurutnya, pemerintah sangat sependapat dengan seluruh fraksi di DPR untuk mendorong kinerja ekspor Indonesia dan neraca transaksi berjalan.
 
"Untuk mendukung pertumbuhan ekspor, pemerintah akan terus meningkatkan pangsa pasar melalui kerja sama perdagangan bilateral untuk memperluas negara tujuan ekspor yang memiliki pasar potensial," kata dia dalam rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 27 Agustus 2019.
 
Kebijakan perdagangan juga akan difokuskan pada penyempurnaan fasilitas di kawasan-kawasan khusus dan penurunan biaya produksi melalui perbaikan sistem logistik. Pemerintah juga akan tetap memberikan insentif untuk fasilitasi perdagangan yang efektif dan terarah guna meningkatkan daya saing produk manufaktur dalam negeri di pasar global.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di samping kebijakan tersebut, pendampingan kepada pelaku ekspor juga akan diberikan dalam rangka peningkatan daya saing dan menghilangkan kendala dalam ekspor, termasuk melalui promosi dan proses negosiasi. Pemerintah terus mendukung proses hilirisasi serta terbangunnya rantai industri hulu dan hilir dalam rangka menjaga pasokan bahan baku dan mengurangi impor.
 
Penguatan neraca transaksi berjalan tidak hanya ditempuh melalui perbaikan neraca perdagangan barang, tetapi juga melalui penguatan neraca perdagangan jasa. Untuk lebih meningkatkan ekspor jasa nasional, pemerintah akan mempercepat pengembangan empat destinasi pariwisata super prioritas Danau Toba, Borobudur, Labuan Bajo dan Mandalika.
 
"Upaya tersebut diharapkan dapat menarik wisatawan mancanegara, sekaligus mendorong perekonomian daerah wisata, serta menambah devisa negara," jelas dia.
 
Dirinya menambahkan transformasi industrialisasi, iklim investasi, dan ekspor juga telah diupayakan oleh pemerintah melalui koordinasi antar kementerian/ lembaga untuk melihat sektor-sektor apa saja yang akan menjadi fokus ekspor Indonesia sebagai strategi mengurangi defisit transaksi berjalan. Beberapa industri yang menjadi pertimbangan utama adalah sektor manufaktur dan kelapa sawit.
 
Di sisi lain, kebijakan impor akan diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik sesuai dengan prioritas nasional, khususnya bahan baku dan barang modal untuk ekspor. Kebijakan ini juga akan disertai dengan penyederhanaan penerbitan perizinan perdagangan dan peningkatan output produksi serta kelancaran distribusi barang-barang domestik.
 
"Untuk mengurangi impor migas, Pemerintah akan terns mengembangkan energi barn dan terbarukan (EBT) serta mempercepat pemberlakuan program B30," pungkasnya.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif