Industri semen terkena dampak kenaikan TDL -- MI/Denny Saputra
Industri semen terkena dampak kenaikan TDL -- MI/Denny Saputra

Terkena Dampak Kenaikan TDL, SMGR Efisiensi

Wibowo • 15 Juli 2014 16:10
medcom.id, Jakarta: Produsen semen, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mengaku industri semen termasuk bisnis yang paling terkena dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) untuk kelas industri 2014. Oleh karena itu, perseroan melakukan inovasi dan efisiensi di berbagai aspek.
 
"Pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan gas buang (waste heat recovery power generation/WHRPG) di Pabrik Tuban merupakan salah satu inisiatif perseroan untuk mengurangi ketergantungan energi yang bersumber dari PLN dan sekaligus mengurangi konsumsi batu bara," jelas Direktur Utama Semen Indonesia Dwi Soetjipto, di Jakarta, Selasa (15/7/2014).
 
Ia mengungkapkan, kebutuhan daya Semen Indonesia mencapai 400 megawatt (MW) setiap tahun. Saat ini, perseroan memiliki kapasitas sebesar 160 MW.

"Kita (Semen Indonesia) mempelajari kenaikan TDL PLN untuk bisa investasi di power plant," tambah Dwi.
 
Seperti diketahui, perseroan bekerja sama dengan JFE Engineering Jepang membangun WHRPG). Pembangkit listrik tersebut berkapasitas 30,6 MW.
 
Dwi Soetjipto mengatakan pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan gas buang merupakan realisasi dari penandatangan nota kesepahaman (momerandum of understanding/MoU) yang ditandatangani pada 25 Maret 2013 lalu antara perseroan dengan JFE Engineering, Jepang dengan biaya investasi pembangunan mencapai Rp638 miliar.
 
Konstruksi dilakukan selama 24 bulan yang dihitung sejak kegiatan engineering sampai selesainya commissioning. Ditargetkan beroperasi pada semester kedua 2016.
 
Menurutnya, Pemerintah Jepang mempunyai komitmen yang kuat untuk mendukung proyek ini melalui program Joint Crediting Mechanism (JCM). Sehingga, investasi akan didukung oleh pemerintah Jepang sekitar 20%. "Sisa pendanaan dari kas internal Semen Indonesia," ungkap Dwi.
 
Kandungan lokal dari proyek pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan gas buang mencapai 52%. Sisanya merupakan kandungan impor yang disediakan JFE. Pembangunan WHRPG dengan kapasitas 30,6 MW akan mengurangi penggunaan listrik PLN sebesar 152 kWh per tahun. "Artinya, potensi penghematan biaya listrik mencapai Rp120 miliar per tahun," terangnya.
 
Proyek ini akan berkontribusi pada program pengurangan emisi CO2 sebesar 122.358 ton per tahun. Penggunaan teknologi ramah lingkungan di Pabrik Tuban merupakan yang kedua di perseroan sebelumnya dibangun dengan teknologi di Pabrik Indarung Padang dengan kapasitas 8,5 MW dan mulai beroperasi pada 2011.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AHL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan