Dia mengatakan, pasaran Thailand menampung 12,25 persen, Australia 6,56 persen, Singapura 1,85 persen, Tiongkok 6,47 persen, Hong Kong 3,75 persen, Inggris 0,52 persen dan Jerman 0,85 persen. Sedangkan sisanya 22,34 persen diserap oleh berbagai negara lainnya di belahan dunia, karena ikan dan udang hasil produksi Bali mampu bersaing di pasaran ekspor.
Panasunan menambahkan, Bali meraup devisa sebesar USD91,43 juta dari pengapalan hasil perikanan dan kelautan selama sepuluh bulan periode Januari-Oktober 2014. Perolehan tersebut menurun 2,78 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya tercatat USD94,05 juta.
Perolehan hasil perikanan dan kelautan itu mampu memberikan kontribusi sebesar 21,69 persen dari total ekspor Bali mencapai USD421,50 juta. Delapan dari belasan jenis hasil perikanan dan kelautan Pulau Dewata menembus pasaran mancanegara yang paling menonjol adalah ikan tuna dalam bentuk segar dan beku.
Ikan tuna mampu menghasilkan devisa sebesar USD63,47 juta selama sepuluh bulan pertama 2014, meningkat tipis hanya 0,03 persen dibanding kurun waktu yang sama tahun sebelumnya yang tercatat USD63,45 juta.
Ikan tuna tersebut merupakan hasil tangkapan nelayan dan kapal-kapal besar yang dioperasikan sejumlah perusahaan yang bermangkal di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, namun wilayah oprasionalnya di perairan Indonesia, khususnya Indonesia timur. Komoditas hasil perikanan lainnya yang menembus pasaran luar negeri adalah ikan lainnya sebesar USD11,77 juta, merosot 5,08 persen dibanding
kurun waktu yang sama tahun sebelumnya USD12,40 juta.
Selain itu juga ikan kerapu menghasilkan USD8,15 juta juga menurun 7,90 persen dibanding kurun waktu yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD8,85 juta. Demikian juga ekspor ikan hias hidup menghasilkan USD2,71 juta, ikan kakap USD3,13 juta, kepiting USD87.156 dan sirip ikan hiu USD49.540,70.
"Dua jenis mata dagangan lainnya yakni rumput laut dan ikan nener tidak lagi menembus pasaran ekspor, padahal tahun-tahun sebelumnya kedua jenis mata dangangan itu cukup potensial," tukas Panasunan. (Antara)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News