Ilustrasi. (FOTO: MI/Bagus Suryo)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Bagus Suryo)

Mendag Tegaskan Impor Jagung Hasil Rapat Koordinasi

Ekonomi kementerian perdagangan jagung
Ilham wibowo • 31 Januari 2019 13:57
Bekasi: Kebijakan impor jagung tahun ini untuk kebutuhan ternak telah disepakati lewat rapat koordinasi (rakor) lintas kementerian dan lembaga. Keputusan tersebut dinilai perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok.
 
"Pengambilan keputusan (impor) itu di rakor, itu dengan rekomendasi, tapi karena itu rakor, rakor yang memutuskan," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ditemui saat pelepasan ekspor baja di kawasan Industri Cikarang Barat, Bekasi, Kamis, 31 Januari 2019.
 
Enggar menegaskan hasil rakor tersebut dilanjutkan dengan berkirim surat penugasan kepada Kementerian BUMN untuk menugaskan Perum Bulog. Penerbitan surat perizinan impor (SPI) pada 25 Januari 2019 kemudian dilakukan untuk pengadaan jagung tambahan sebanyak 150 ribu ton.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tugas saya hanya menulis surat ke BUMN agar menugaskan Bulog untuk impor," ungkapnya.
 
Pengadaan impor jagung tambahan itu juga telah tercantum pada dokumen lelang yang dipublikasikan di situs resmi Bulog. Dokumen ditandatangani Direktur Pengadaan Bulog Bachtiar.
 
Tender jagung dibuka untuk eksportir dari Argentina dan Brasil dengan rincian sebanyak 30 ribu ton akan dikirim melalui Cigading, Banten dan 120 ribu ton melalui Tanjung Perak, Surabaya.
 
Dalam kesempatan berbeda, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan alasan pemerintah mengimpor jagung di saat musim panen akan tiba. Menurut Darmin harga jagung masih tinggi karena stoknya kurang.
 
"Meskipun pada (musim) panen, panen berapa banyak? Pertanyaannya kan begitu. Kalau banyak dan melimpah harga sudah jatuh," kata dia di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa, 22 Januari 2019.
 
Dirinya menambahkan, tingginya harga jagung memengaruhi peternak ayam. Para peternak ayam mengeluhkan sulitnya mendapatkan jagung sebagai pakan ternak, sehingga impor menjadi jalan terbaik.
 
Peternak kecil banyak yang kesulitan mendapatkan jagung untuk pakan ternak. Sementara peternak dengan skala besar sudah memiliki gudang sebagai penyimpanan stok jagung mereka.
 
Impor jagung dilakukan untuk menekan harga jagung yang masih tinggi, yakni antara Rp5.000-Rp6.000 per kilogram (kg) di sebagian wilayah Jawa Barat dan Banten.
 
Sementara itu, harga jagung yang ideal berada di kisaran Rp3.700-Rp4.000 per kilogram (kg). Pada akhir 2018, Bulog telah melelang impor jagung sebesar 100 ribu ton dengan realisasi mencapai 99 ribu ton.
 
Kemudian pada 11 Januari 2019, pemerintah mengeluarkan izin impor jagung tambahan sebanyak 30 ribu ton. Namun, Bulog menyatakan impor jagung ini tidak wajib dilakukan selama masih bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri. Secara total, volume impor jagung pemerintah melalui Bulog mencapai 280 ribu ton.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif