Satu Data Jadi Tantangan Revolusi Industri 4.0
Kepala BPS Suhariyanto dalam seminar Satu Data Indonesia Menuju Revolusi Industri 4.0 -- Foto: Medcom.id/ Nia Deviyana
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan lintas kementrian dalam mewujudkan Satu Data Indonesia. Program ini merujuk pada kebijakan tata kelola data satu pintu untuk menghasilkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan revolusi industri 4.0 membutuhkan data yang terintegrasi untuk menentukan sebuah kebijakan. Sayangnya, seringkali ditemukan perbedaan data pada level nasional maupun daerah karena adanya perbedaan konsep atau metodologi pengambilan data.

"Untuk itu kita kembangkan Sistem Data Statistik Terintegrasi atau SimDaSi untuk mengatasi inkonsistensi data sektoral," ujar pria yang akrab disapa Kecuk itu dalam seminar bertajuk Satu Data Indonesia Menuju Revolusi Industri 4.0 di Swiss-Belhotel Mangga Besar Jakarta, Senin, 25 November 2018. 

Ia menjelaskan ada lima subsektor yang menjadi fokus Kementrian Perindustrian dalam peta jalan (roadmap) industri 4.0. Di antaranya sektor industri makanan dan minuman paling besar kontribusinya untuk Produk Domestik Bruto (PDB).

Berdasarkan data Kementrian Perindustrian, nilai ekspor makanan dan minuman nasional pada 2017 mencapai USD11,5 miliar. Pertumbuhan sektor ini sebesar 9,23 persen, melampaui PDB nasional sebesar 5,07 persen.

"Jadi bukan ambisius kalau tujuan kita membangun food and baverage powerhouse di era industri 4.0 ini," tambahnya. Adapun empat sektor lain yang menjadi fokus termasuk tekstil dan pakaian, bahan kimia, dan barang elektronik. 

Suhariyanto berharap dengan adanya satu data bisa menjadi acuan untuk mengetahui sektor-sektor mana yang memberi kontribusi paling besar sekaligus melengkapi kekurangan data. 






(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id