Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: dok MI/Susanto.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: dok MI/Susanto.

Tujuh Tantangan Industri di Tanah Air

Ekonomi perindustrian kementerian perindustrian
Ilham wibowo • 12 Desember 2019 11:18
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) fokus memacu pengembangan industri nasional agar lebih berdaya saing di kancah global. Identifikasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh pelaku industri di dalam negeri jadi fokus utama agar solusinya tepat sasaran.
 
"Kami memetakan ada tujuh tantangan yang saat ini dihadapi industri dalam negeri, dan kami terus mencari jalan keluarnya. Apabila hal tersebut bisa diselesaikan secara cepat dan tepat, kami optimistis industri kita semakin tumbuh berkembang dan kompetitif," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 12 Desember 2019.
 
Agus menyebutkan, hal pertama yang menjadi tantangan di dunia industri Tanah Air yakni tingginya harga bahan baku. Misalnya saja seperti kebutuhan gas yang menopang hingga 35 persen industri pengolahan kaca dan keramik.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau berbicara mengenai bahan baku industri, salah satunya adalah gas untuk kebutuhan industri yang harganya masih relatif tinggi dibandingkan negara-negara lain. Tentunya ini akan memengaruhi daya saing industri di Tanah Air," ujarnya.
 
Di samping itu, Kemenperin telah mengidentifikasi sejumlah bahan baku yang masih cukup banyak dibutuhkan sektor industri di dalam negeri, di antaranya kondensat, gas, naptha, biji besi, bahan penolong seperti katalis, scrap (besi bekas), kertas bekas, dan nitrogen.
 
"Menjawab tantangan terhadap kurangnya bahan baku ini, pemerintah mendorong tumbuhnya industri hulu seperti sektor kimia dasar dan logam dasar," tutur Agus.
 
Hal kedua yang menjadi tantangan yakni perlunya penambahan infrastruktur seperti pelabuhan dan akses jalan yang terintegrasi. Selanjutnya perluasan kawasan industri di luar Pulau Jawa, sehingga terwujudnya Indonesia sentris.
 
"Kemenperin akan terus mendorong adanya kawasan-kawasan industri di luar Jawa, khususnya kawasan-kawasan industri yang terzonasi dan spesialisasi, terutama yang berkaitan dengan dekatnya ketersediaan bahan baku agar industri bejalan lebih efisien dan terlaksananya hilirisasi," paparnya.
 
Kemudian, tantangan ketiga berkaitan dengan kurangnya utility seperti seperti listrik, air, gas, dan pengolahan limbah di kawasan-kawasan yang diproyeksikan menjadi kawasan industri baru. Pengelolaan yang tepat diperlukan agar industri bisa berkelanjutan tanpa membebani dampak lingkungan.
 
"Khusus untuk pengolahan limbah, Kemenperin berupaya melakukan pengembangan kawasan industri terintegrasi yang dilengkapi dengan instalasi pengolah limbah," imbuhnya.
 
Tantangan keempat adalah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten. Salah satunya untuk menjawab kebutuhan terhadap kemajuan teknologi, yang berkaitan dengan industri 4.0 untuk meningkatkan produktivitas secara lebih efisien dan cepat.
 
"Upaya yang sedang kami lakukan untuk menjawab tantangan kesiapan SDM industri, antara lain adalah melalui pengembangan pendidikan vokasi yang link and match dengan industri. Hal ini guna memenuhi ketersediaan SDM bidang industri yang terampil," tutur Menperin.
 
Tantangan kelima berkaitan dengan mindset atau paradigma tentang limbah yang akan terus disosialisasikan oleh Kemenperin. Selama ini ada persepsi di masyarakat bahwa limbah harus dimusnahkan. Padahal limbah itu bisa diolah agar dapat meningkatkan nilai tambahnya dan bisa dipakai sebagai bahan baku industri.
 
"Hal ini perlu satu gerakan atau sosialisasi, bahwa limbah bisa bahan baku dari industri itu sendiri," tegasnya.
 
Selanjutnya, Industri Kecil dan Menengah (IKM) merupakan tantangan keenam. Sebab, IKM di Tanah Air masih membutuhkan revitalisasi teknologi agar produktivitasnya lebih meningkat dan efisien.
 
Saat ini, Kemenperin telah menyiapkan Dana Alokasi Khusus (DAK) pengembangan industri kecil dan menengah (IKM). Anggaran ini dalam upaya penumbuhan wirausaha industri baru, merevitalisasi sentra IKM serta pembangunan infrastruktur penunjang IKM seiring dengan implementasi industri 4.0.
 
"Dengan dukungan tersebut, diharapkan IKM dalam negeri mampu meningkatkan daya saingnya," ujar Agus.
 
Hal terakhir yang menjadi tantangan industri adalah akses pasar dan tekanan impor. Kemenperin pun terus mendorong perluasan pasar ekspor yang diimbagi dengan kebijakan safeguard terhadap barang-barang dari luar negeri yang bisa menggangu industri dalam negeri.
 
"Kami telah menyiapkan berbagai instrumen untuk mendorong perluasan akses pasar dan perlindungan industri dalam negeri ini. Ekuilibriumnya harus sedang kita cari secara baik," ungkapnya.
 
Agus pun menekankan, pihaknya akan terus fokus mencari solusi dari tujuh tantangan tersebut. "Solusinya tidak bisa hanya datang dari Kemenperin, karena harus ada orkestrasi dan sinergi. Dengan sinergi yang baik, kami optimistis akan terjawab dalam omnibus law yang sedang disusun," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif