Ilustrasi. (FOTO: MTVN/Ardi Yudanto)
Ilustrasi. (FOTO: MTVN/Ardi Yudanto)

Industri Asuransi Masih Mencatat Pertumbuhan Positif

Ekonomi asuransi asuransi jiwa asuransi umum
Eko Nordiansyah • 21 Januari 2020 22:23
Jakarta: Kinerja industri asuransi secara umum sejak 2014 ternyata masih menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik. Meskipun industri ini belum mengalami reformasi untuk melakukan berbagai perbaikan seperti yang sudah dilakukan di industri perbankan.
 
Pengajar Magister Manajemen Universitas Indonesia, Alberto Daniel Hanani, menilai kinerja industri asuransi sejak diatur dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menunjukkan banyak kemajuan terlihat dari pertumbuhannya tiap tahun.
 
"Ini tidak hanya kinerja OJK. Menurut saya, ini kinerja para pelaku industri yang cermat memanfaatkan peluang secara baik, lebih dari kinerja regulator juga. Apakah kemajuan industri tersebut menghasilkan suatu industri yang lebih baik dari sebelumnya? Tentu saja, tapi tidak ada yang mutlak," ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 21 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya menambahkan, perbaikan harus ditingkatkan yang bertujuan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, permintaan pasar dan perlindungan konsumennya. Di samping itu, perlu dilakukan penguatan peraturan tentang governance perusahaan dan manajemen risiko serta penegakan aturan (enforcement) yang dapat memastikan pimpinan perusahaan dan regulator berperilaku rasional bermoral secara lebih konsisten.
 
"Untuk mengatasi masalah sifat opportunistic manusia yang rasionalitasnya terbatas (bounded), maka perlu sekali adanya check and balance berlapis. Sehingga tindakan khilaf dapat diobservasi dan dampak khilaf dapat dimitgasi secepat mungkin," ucapnya.
 
Untuk itu, perlu aturan yang lebih jelas dan transparan. Selain itu, harus memastikan aturan dipatuhi melalui mekanisme pengawasan berlapis, misal dari audit internal perusahaan, manajemen risiko oleh dewan komisaris, pelaporan dan pemeriksaan rutin oleh regulator, melakukan tindakan koreksi tepat waktu sesuai dengan hasil compliance assessment, dan seterusnya.
 
"Fungsi OJK bukan hanya mengawasi perilaku industri, tapi juga mengatur norma perilaku. Fungsi pengaturan itu untuk menetapkan standar batas-batas perilaku industri yang patut dan dapat diterima oleh rasionalitas publik yang bermoral. Fungsi pengawasan bertujuan memastikan peraturan yang berlaku dipatuhi, sehingga risiko terjadinya pelanggaran yang berpotensi menghancurkan tatanan industri yang sehat dapat dimitigasi dengan baik dan tepat waktu," jelasnya.
 
Mengenai beberapa kasus di industri asuransi, Alberto mengatakan perlu dilihat jelas asal persoalannya, mengingat kebanyakan berawal dari persoalan lama yang tidak diselesaikan oleh otoritas sebelum OJK.
 
"Harus dilihat akar masalahnya, isu lain yang sering diabaikan padahal penting adalah apa beban warisan sejarah perusahaan yang selama ini coba disembunyikan?" tuturnya.
 
Warisan ini menurut Alberto, juga merupakan faktor eksternalitas yang tidak bisa lagi diubah karena seperti pepatah 'nasi sudah jadi bubur', dan sudah seharusnya disikapi dengan jujur, tetapi bijak dan tenang.
 
Di lain kesempatan, Mantan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK periode 2012-2017, Firdaus Djaelani juga sepakat bahwa industri asuransi saat ini menunjukan pertumbuhan yang positif. Bahkan kinerjanya melebihi target.
 
"Sebetulnya industri asuransi kita cukup bagus, cukup berkembang. Meskipun sekarang sedikit banyak ramai tapi pertumbuhan sudah sekitar enam persen dan aset yang dikelola sudah mencapai lebih dari Rp250 triliun," ucapnya.
 
Untuk upaya reformasi industri asuransi, Firdaus mengungkapkan langkah-langkah pembenahan sudah dilakukan sejak sebelum lahirnya OJK, yakni sejak regulasi berada di Kementerian Keuangan. Pembenahan ini dilakukan secara bertahap.
 
Data OJK menunjukkan pertumbuhan aset terus meningkat sejak 2014 dari Rp807,7 triliun menjadi Rp1.325,7 triliun di Desember 2019. Nilai investasi industri ini juga terus meningkat dari Rp648,3 triliun di 2014 menjadi Rp1.141,8 di tahun lalu.
 
Sementara premi asuransi komersial pada 2019 juga menunjukkan pertumbuhan 6,1 persen (yoy) menjadi Rp261,65 triliun. Premi asuransi jiwa berkembang sebesar Rp169,86 triliun dan premi asuransi umum/reasuransi naik sebesar Rp91,79 triliun.
 
Sedangkan untuk tingkat permodalan Risk Base Capital (RBC) pada 2019 sebesar 329,3 persen untuk asuransi umum dan 725,4 persen untuk asuransi jiwa. Angka yang jauh di atas ambang batas permodalan asuransi minimal 120 persen.
 

(EKO)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif