Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro. Foto: dok MI.
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro. Foto: dok MI.

Memanfaatkan Nuklir untuk Industri Pangan

Ekonomi pangan nuklir
Eko Nordiansyah • 05 November 2019 12:23
Jakarta: Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkapkan pemanfaatan teknologi nuklir untuk sektor pangan. Menurut dia, pemanfaatan teknologi untuk sektor pangan adalah suatu keharusan di tengah tantangan yang ada.
 
Dirinya bercerita saat berkunjung ke Batan, banyak inovasi teknologi di bidang pangan yang sudah dijalankan. Bahkan salah satunya adalah intervensi pendekatan nuklir yang dimanfaatkan untuk menghasilkan beras berkualitas, namun tetap aman untuk dikonsumsi.
 
"Tapi bapak ibu enggak usah khawatir itu bagian dari riset dan inovasi yang sudah biasa dilakukan. Jadi artinya makan beras itu tidak akan membuat bapak ibu terkena radioaktif ya, sudah sangat aman. Itu cuma intervensinya nuklir," kata dia dalam Rakornas Kadin di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Selasa, 5 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bambang menambahkan intervensi nuklir yang dikembangkan Batan untuk pangan bisa meningkatkan produktivitas karena menguntungkan dan bisa meningkatkan produksi nasional. Selain itu, penggunaan teknologi ini juga bisa meningkatkan kualitas produk pangan yang dihasilkan.
 
"Kualitas itu misalkan mereka kemarin menunjukkan ke saya mengenai kedelai. Jadi kedelai itu bisa diintervensi dengan nuklir, kedelai lokal sehingga produktivitasnya meningkat kualitasnya pun membaik. Saya kemarin mencoba tempe yang dibuat dari kedelai yang berasal dari intervensi nuklir tersebut," jelas dia.
 
Tak hanya itu, Bambang menyebut penggunaan teknologi di sektor pangan bisa mengurangi ketergantungan impor. Misalnya saja, saat ini pengusaha masih mengimpor gandum sebagai bahan baku terigu, tetapi dengan teknologi yang ada kini bisa dikembangkan gandum tropis sehingga mengurangi ketergantungan impor.
 
Bukan hanya mengurangi impor, Bambang menjelaskan, penggunaan teknologi bisa membantu perbaikan kualitas produk ekspor nasional. Dirinya mencontohkan, saat ini Batan juga memanfaatkan intervensi nuklir untuk membersihkan bakteri di buah-buahan sehingga bisa layak ekspor.
 
"Salah satu yang saya ingat produk buah kita kadang-kadang tidak bisa tembus ekspor ke suatu negara gara-gara lalat buah. Gara-gara bakteri yang masih ada yang tidak bisa dihilangkan dengan teknologi biasa. Nah sekarang ada teknologi nuklir yang bisa membersihkan buah tersebut sehingga bisa diekspor," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif